Sebadong - Situs kumpulan cerita dewasa yang memberikan terbaik buat sobat semuanya. Jangan sungkan untuk berkunjung kembali ke situs sebardong.blosgspot.com. Semua cerita/ artikel dan gambar kami ambil dari pencarian di Google. Bacalah dengan menggunakan perasaan biar lebih bermakna. Terima Kasih.
Perkenalkan Nama Saya Randy,umur saya 22
Tahun,yang tinggal di kota medaN Orang tuaku tinggal di luar pulau
karena Papaku bekerja di sebuah perusahaan pertambangan milik asing
disana, sedangkan aku sejak kecil memang sengaja dititipkan pada
kakek-nenekku di kampung dan entah apa alasannya, yang jelas bukan
karena mereka tidak mampu mengurusku atau soal materi. Apa yang
diberikan oleh kedua orangtuaku meski memang melalui kakek-nenek justru
berlebih jika dibandingkan dengan teman-teman sebayaku. Mulai dari
pakaian, mainan, uang saku, dan masih banyak lagi yang secara tidak
langsung membuat aku jadi anak yang ke-pede-an bahkan cenderung suka
cari perhatian dan arogan. Meski begitu prestasiku dalam bidang
pendidikan bisa dibilang cukup baik, kenyataannya aku bisa diterima di
salah satu SLTP Negri favorit di daerahku.
Kebetulan Kakek-nenekku menikah beda agama.
Kakekku yang berasal dari desa adalah seorang muslim yang taat,
sedangkan nenekku yang masih keturunan ningrat-belanda memeluk agama
Katolik. Meski keduanya sayang kepadaku tapi aku justru lebih dekat
dengan kakek, dan yang jadi masalah adalah pengetahuan agamaku yang
kurang karena aku beragama katolik sesuai dengan papa-mamaku. Tak
sekalipun kakek mengajarkan tentang agamanya meskipun kami begitu dekat,
sedangkan jika aku harus dekat dan belajar dengan nenek …. hehehe yang
ada aku selalu diomelin dan dituntut untuk menjadi anak yang baik dalam
segi apapun degan cara nenek yang otoriter bagai kompeni itu. Karna
itulah aku selalu berlindung dibalik kakek, atau jika keadaan terdesak
dan kakek pun merasa perlu menyerahkan aku pada nenek, aku lebih memilih
kabur hingga kakek dan nenekku bahkan sampai bingung bagaimana aku bisa
mendapatkan pemahaman agama yang baik, karena dalam semua mata
pelajaran di sekolah, pelajaran agama adalah mata pelajaran yang paling
jeblok dalam raporku. Suster Rona guru agamaku terkadang hampir habis
kesabaranya saat mengajarku dalam kelas. Pengetahuan agama yang kurang
ditambah sikap dan perilaku yang badung membuat beliau bahkan pernah
datang ke rumah dan membahas soal kenakalan dan prestasiku yang jeblok
di sekolah.
Suster Rona Op. beliau adalah seorang
suster yang bertugas di paroki dan juga mengajar agama Katolik di
sekolahku. Selain bekal pengetahuan agama yang kurang dari rumah,
sebenarnya beliau Suster Rona ini adalah salah faktor yang membuat
nilaiku justru jeblok di sekolah. Bagaimana tidak, setiap beliau megajar
bukan soal pelajaran yang aku serap, aku justru sering melamun soal
beliau. Jika boleh aku gambarkan disini, beliau berasal dari NTT, dengan
cirikhas orang timur berkulit sawo matang, posturnya bisa dibilang
proporsional setidaknya menurutku, tubuhnya ramping meski tidak terlalu
tinggi, lekuknya samar tercetak dibalik baju keagamaan dengan ukuran pas
badan, belum lagi kedua matanya yang bening namun tajam yang kadang
menemaniku dalam khayalan saat beronani baik saat di rumah atau di
toilet sekolah. Terlebih jika beliau sedang menulis di papan tulis,
tangan kanannya yang terangkat karena papan tulis yang terlalu tinggi
dan tangan kirinnya yang memegang buku panduan membuatku seolah ingin
memeluknya dari belakang, meremas toketnya sambil menggesek-gesekkan
kontolku di pantatnya yang kencang. kadang sesekali kupejamkan mata
ketika sedang menikmatinya, hingga pada suatu hari …
“PLAKKKKK…”
Mataku terbelalak ketika Suster Rona sudah
ada di hadapanku sambil memegang penggaris kayu besar yang tadi
dipukulkannya dei mejaku.
“Hei kamu Randy, coba kamu jelaskan tentang
Nabi Musa seperti yang suster ajarkan barusan? ” Suster Rona menatapku
tajam seketika itu pula aku tertunduk, meski dengan diselingi gerakan
menggaruk-garuk kepalaku sendiri.
“Anu suster … anu …”
“matih aku ….” gumamku dalam hati. Dengan
jumlah murid yang sedikit dan suasana yang begitu hening saat Suster
menantikan jawabanku, membuatku tak berkutik untuk meminta bantuan
bisikan dari teman di dalam kelas agama.
Beberapa menit aku tak kunjung mengeluarkan kata-kata untuk menjelaskan kembali pelajaran yang baru saja diajarkan Suster Rona.
“Sudah sana, kamu keluar dan tunggu di luar kelas”.
Dengan langkah gontai dan tanpa pembelaan
akupun berjalan keluar dan duduk di depan pintu ruang agama Katolik. Bel
pelajara berbunyi, aku masih tetap berada di depan pintu ruang agama
dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kudengan doapenutup
pelajaran agama sudah selesai dan tak berapa saat suster Rona keluar
ruangan. Beliat menatapku dari kejauhan, namun saat melintasiku suster
berlalu dengan sikap dingin tanpa menyapaku.
“Suster … suster …” aku berjalan mengejar
beliau, namun Suster Rona tetap tak bergeming hingga saat aku beranikan
diri untuk menyenuh lengan tangan kanannya. Seketika Suster Rona
menghentikan langkahnya di lorong sekolah.
“Suster, Randy minta maaf …. “
“Iya …” Suster Rona hanya mengeluarkan sepatah kata dengan raut wajah yang dingin dan kembali lagi melanjutkan langkahnya.
“Maafin Randy suster … ?” aku masih terus mengejar dengan kata-kataku.
“Randy janji akan bersikap baik di kelas
dan memperhatikan pelajaran, tapi suster maafin Randy ya …? Kalau perlu
berikan hukuman atas kesalahan Randy …. ” Kali ini aku berdiri
menghadang Suster Rona hingga beliau berhenti dan kedua bola matanya
yang indah menatapku kembali dengan tajam.
“Baik jika itu permintaanmu, suster minta kamu datang ke Susteran jam 4 sore dan sekarang kembalilah ke kelasmu.”
“Terima kasih suster…” aku menundukkan kepala dan menggeser tubuhku untuk membirikan jalan.”
Jam sudah menunjukkan jam 3 sore, dan aku
bergegas mandi, Setelah berpakaian rapi akupun menstater sedan Toy*ta
hatchback yang dititipkan papaku di rumah kakek sepaket dengan aku.
Meski belum cukup umur dan papaku juga jauh di luar pulau, tapi aku
sudah terbilang mahir membawa mobil berkat Om Agus adik bungsu dari
mamaku yang masih kuliah dan tinggal di rumah kakek dan nenek.
skip skip skip
Ahkirnya aku pun sampai di depan gerbang
susteran. Setelah mobil kutepikan aku mngetuk intu pagar besi yang
tertutup rapat dan tak lama keluarlah Suster Rona.
“Eh kamu Randy, silahkan masuk ,”
“Dianter siapa Randy.. ?” Suster Rona bertanya sambil bahasa tubuhnya seolah menanyakan siapa yang menungguku di dalam mobil.
“Saya sendirian suster…”
“Kamu sendiriaan?? Setir mobil itu…???” diikuti dengan tarikan nafas panjang dan gelengan kepala.
“Iya suster…. ” jawabku singkat dengan
perasaan sedikit bangga namun tetap menunjukan mimik cemas akan reaksi
suster Rona selanjutnya.
“Memang orang tua kamu mengijinkan?”
“Papa dan mama di luar pulau suster, Randy
dari kecil …. bla … bla … ” ahkirnya sore itu suster Rona tahu tentang
keadaanku yang sebenarnya, bahkan raut wajahnya yang biasanya datar pun
kulihat berubah menunjukan rasa trenyuh dengan keadaanku.Kami berdua
sudah duduk di sebuah bangku panjang ruang tamu susteran sambil aku
menceritakan kondisi kehidupanku, dan perlahan suasana semakin mencair,
apalagi kondisi susteran saat itu sedang sepi, hanya ada aku dan suster
Rona.
Belakangan aku tahu juga bahwa tempat itu
hanya ditinggali oleh 3 orang suster diantaranya adalah suster Dominika,
suster Gema dan Suster Rona, mereka punya kesibukannya masing-masing.
Suster Dominika yang seorang Kepala Sekolah SMA yayasan Katolik lebih
banyak menghabiskan waktu di sekolah selain melakukan pelayanan gereja
atau berkunjung ke rumah-rumah umat di lingkungan paroki. Suster Gema
yang sudah berumur pun tak kalah sibuk memberikan pelayanan gereja,
pelayanan umat, dan sering melakukan ziarah ke tempat-tempat yang
disucikan oleh umat Katolik baik di dalam maupun luar kota karena
diminta umat untuk menjadi pembimbing rohani. Sedangkan suster Rona yang
lebih banyak tinggal di susteran bisa disebut masih baru di lingkungan
paroki kami. Tugas pokok suster Rona selain melayani gereja adalah
sebagai guru agama di sekolahku. Yah, selain belum lama ditugaskan di
paroki ini suster Rona juga tidak memiliki sepeda motor seperti Suster
Dominika dalam beraktifitas,nhanya kegiatan yang benar dirasa perlu saja
yang bisa dihadiri olehnya sehingga praktis beliau lebih banyak tinggal
sendirian di susteran.
“Kasihan kamu Randy … kamu pasti sangat
merindukan orangtuamu ya …?” suster Rona mendekatkan dirinya dengan
posisi tubuh yang mengarah padaku sambil mengusapkan tangannya di
rambutku.
“eh… oh, iya suster ….” aku menjawab
sekenanya karena belaian tangan suster di kepalaku saat itu membuat
tubuhku tiba-tiba merinding seperti tersengat listrik meski hanya
hitungan detik.
Aku refleks melihat wajah suster Rona yang
saat itu duduk disampingku, ingin rasanya kudekatkan wajahku dan mencium
bibir tipisnya, arrrghhh ….
Suster Rona kemudian menarik tangannya dari
kepalaku dan merubah posisi duduknya sambil menghela nafas panjang.
Kepalanya menengadah keatas cukup lama dan saat itu pula kulihat matanya
berkaca-kaca.
“suster kenapa? apa perkataan Randy ada yang salah…?
“Enggak kok Randy, gak ada yang salah … ”
Suster Rona menjawab sambil menyeka air mata yang menetes di sudut
matanya dengan jari.
“Suster hanya …. ” suster Rona menghentikan kata-katanya sambil menarik nafas dalam-dalam.
“Randy minta maaf kalau Randy salah, maaf sudah bikin suster sedih dengan cerita Randy…”
“Enggak Randy, kamu gak salah …. Suster
sedih karena teringat orang tua di NTT ..” “Saat ini Ibu suster sedang
sakit parah dan dirawat di rumah sakit ….”
“owh … maaf suster, Randy gak tahu …”
“Suster ingin sekali bisa pulang tapi suster belum bisa ….”
“Sabar ya suster ….” entah kenapa aku tiba-tiba berani meraih dan menggenggam tangan suster Rona.
“Yang penting sekarang kita doakan ibu
suster agar kondisinya semakin membaik, kita doakan juga saudara-saudara
disana agar senantiasa diberikan ketabahan dan kekuatan dalam merawat
ibu suster….”. Ya …. sekali lagi anehnya aku bisa dengan luwes
melontarkan kata-kata untuk menenangkan hati suster Rona saat itu.
Seketika itu pula suster Rona melepaskan tangannya dari genggamanku dan memelukku dari samping dengan erat.
“Terima kasih Randy …. kamu baik sekali …. selama ini suster sudah salah menilaimu …”
W.O.W … Jantungku serasa berhenti berdetak
ketika payudara suster Rona menempel di lenganku, meski memang saat itu
masih terhalang oleh baju yang kami kenakan. Rasa empati yang ada dalam
diriku berubah drastis menjadi nafsu yang berkobar saat gundukan kenyal
yang samar tergambar dalam otakku, tonjolan bulat berukuran sedang namun
padat dan kencang itu lembut menekan lengan kiriku. Dalam hitungan
detik suster Rona sudah melepaskan pelukannya saat aku masih berusaha
untuk menikmatinya.
“Maaf Randy … ” suster Rona terbata-bata dan kembali memperbaiki posisi duduknya.
“Gakpapa suster … ” meski sebenarnya aku sanga bersedia memberikan tubuhku sebagai tempat pelampiasan emosinya … huft …
Kami berdua sama-sama terdiam, entah apa
yang ada di pikiran suster saat itu namun dalam benakku hanyalah
kelembutan payudaranya yang masih saja terngiang.
“Sebaiknya sekarang kamu pulang Randy …” suster Rona memulai kembali pembiciraaan kami.
“Lalu hukuman atas keslahan Randy di kelas …?”
“hukuman? … emmm … tidak ada hukuman buat
kamu Randy … suster hanya minta agar kamu lebih konsentrasi dan
bersungguh-sungguh dalam belajar … dan sekarang suster ingin berdoa
sendiri untuk kesembuhan ibu …”
“Baik suster, kalau begitu Randy pamit …”
“Terima kasih Randy, berhati-hatilah di jalan …”
Aku menganggukkan kepala dan membalikan badan menuju pintu keluar..
“Randy … ” suster Rona berjalan mengikutiku keluar
“Tolong jangan ceritakan kejadian tadi pada siapapun.”
“Dan satu lagi, kapanpun kamu mau, kamu boleh datang kesini….”
“Baik suster, Randy pamit …”
Semenjak saat itu hubunganku dengan suster
Rona semakin membaik, di kemudian hari saat aku berpamitan pada kakek
nenek untuk berkunjung ke susteran, justru nenek acapkali menitipkan
makanan atau lauk pauk untuk para suster disana. Memang hal ini tak
lazim jika dilakukan oleh remaja khususnya cowok seumuranku, Aku tak
peduli, berbagai alasan kugunakan agar aku bisa selalu dekat dengan
suster kesayanganku itu. Mulai dari mendapatkan hukuman, pendalaman
imanku, atau alasan memberikan pelayanan dan pengabdian pada gereja,
(gereja dalam arti luas). Begitu pula dengan suster Rona, aku yakin
beliau pasti melakukan hal yang samai pada suster lainya, lingkungan
atau umat yang mungkin melihatku mondar-mandir di susteran itu. Memang
tak sering dan tak banyak yang bisa kulakukan disana, misalnya seperti
membersihkan halaman susteran, menyapu dan mengepel lantai atau
berkonsultasi mengenai masalah keagamaan dan semua itu kulakukan dengan
tanpa terpaksa.
Hubungan yang aneh … tapi entah kenapa
masih saja kujalani dan begitupun kurasakan dengan suster Rona. Hubungan
kami tak lagi seperti seorang murid kepada gurunya atau seorang
rohaniawan dengan umatnya. Kami sudah seperti sahabat, bahkan seperti
sepesang remaja yang menyimpan perasaan satu sama lain, untukku memang
hal ini berlaku namun bagi suster Rona? Apakah perasaanku ini juga sama
dirasakannya?
Hingga pada suatu waktu;
“Randy, anterin suster ke goa tritis yuk …?
“hmmm … boleh suster, memang ada acara apa disana..?
“tidak ada acara khusus, suster hanya ingin ziarah dan melakukan doa pribadi saja …”
Hari minggu ahkirnya kami sepakati untuk
berangkat ziarah. Rencananya memang sepulang dari misa di gereja
langsung bertolak ke tempat ziarah, namun karena awal musim hujan yang
membuat cuaca jadi kurang bisa ditenukan … Terkadang hujan tiba-tiba
datang dan berhenti tanpa bisa dikehendaki, sama seperti pada hari itu…
Sedari pagi hujan mengguyur kota kami, meskipun tidak terlalu lebat
namun berlangsung cukup lama. Kami bahkan sudah berencana membatalkan
tujuan saat itu, sekali lagi entah kenapa sepertinya rasa yang menggebu
membuat aku dan suster Rona tetap berangkat kesana saat hujan mulai
reda.
Toyota Starlet yang kukendarai sudah sampai
di area parkir goa tritis. Meski bigeti perjalanan belum selesai karena
memang untuk mencapai tempat itu harus dilanjutkan dengan berjalan kaki
melalui jalan setapak terjal dan naik turun perbukitan.
DI perjalanan, aku bak seorang pangeran
yang sedang menikmati keindahan alam bersama seorang putri yang cantik
jelita saat itu. Betapa tidak, nanyian merdu suara alam seolah
mengiringi perjalanan kami melintasi jalan bebatuan yang terjal dan
licin di tempat itu. Sesekali aku dengan sigap meraih tangan suster Rona
yang kesulitan melangkahkan kaki di bebatuan terjal atau tanjakan
curam, bahkan kami sempat beberapa kali terbawa suasana hingga lupa
melepaskan tangan. Nafsu birahi yang biasanya memuncak saat membayangkan
suster Rona menemaniku beronani, kini ditambahi dengan perasaan aneh
yang belum pernah aku rasakan. Detak jantung yang bedegup semakin
kencang dan nafasku pun tak beraturan … Apakah ini yang dinamakan dengan
cinta?
Sampai di goa tritis kulihat masih ada
beberapa pengunjung yang melakukan doa disana. Tak ketinggalan kamipun
berdoa bersama, meskipun kemudian suster Rona mempersilahkan aku untuk
menunggunya sebentar karena beliau ingin memanjatkan doa-doa khususnya
secara pribadi.
Aku berjalan-jalan mengitari mulut goa
sambil menyalakan sebatang rokok sambil menunggu suster Rona selesai
dengan doanya. Suster Rona memang tahu kalau aku merokok namun beliau
tidak pernah lagi memarahiku, hanya terkadang menasehatiku akan bahaya
rokok, atau soal uang pembelian rokok yang lebih baik kutabung .
Hubungan kami benar-benar sudah sampai pada titik dimana kami bisa
menerima kekurangan masing-masing.
Hari sudah semakin sore dan rintik hujan
sudah mulai turun, aku bergegas memperingatkan suster Rona untuk segera
menyelesaikan doaya da turun dari bukit. Hanya kami berdua yang basih
ada di dalam goa dan kami putuskan untuk segera pulang. Hujan yang
semakin deras memaksa kami harus berdekapan dibawah payung lipat yang
sudah disiapkan oleh suster Rona. Seharusnya aku bisa menikmati ini,
namun hujan yang semakin deras memaksaku untuk lebih berkonsentrasi
dengan jalanan yang tidak bersahabat hingga kuputuskan untuk berteduh di
sebuah aula tak jauh dari goa itu. Suasana yang sunyi ditambah hembusan
angin yang kencang menerpa tubuh kami yang sedikit basah terkena hujan,
membuat kami berdiri berhimpitan di teras aula itu.
“Sebaiknya kita berteduh sambil menunggu hujan mereda …” aku mencoba memcah keheningan saat itu.
“Iya Randy …brrr ….” Suster Rona mejawab
dengan menggigil dengan tangan yang disilangka seolah menciba
menghangatkan tubuhnya sendiri.
Secara refleks kutelusupkan tangan kananku
diantara punggung suster Rona dengan dinding aula yang dingin. Kugenggam
tangan kanannya dan kuelus perlahan sembari berkata …
“Maaf suster, Randya gak tega melihat suster kedinginan….”
Suster Rona tidak merespon kata-kataku,
hanya kulihat mataya mengerling kepadaku. Suster Rona hanya menatap
kedepan, sesekali meringkuk menundukkan kepala menaha dingin yang
menerpa kami sore itu. Ingin rasanya kudekatkan wajahku dan kukecup
pipinya, namun saat itu aku masih ragu-ragu. Hingga aku sudah merasa tak
kuasa mengungkapkan peasaanku kepadanya… “
“Suster … Randy sayang sama suster ….”
Suster Rona memalingkan wajahnya kearahku, namun beliau hanya diam saat bertatapan dalam jarak yang sangat dekat.
“Aku juga sayang sama Randy ….”. Selang
beberapa saat suster Rona membuka bibirnya, meski saat itu ia menundukan
kepalanya saat mengungkapkan rasa sayangnya kepadaku.
Bagai melayang diudara saat itu, entah
hujan atau gondoruwo penunggu bukit inipun seolah akan mampu aku hadapi
nanti, yang penting saat ini aku bisa berlama-lama dengan kekasih hatiku
….
“Terima kasih suster …” aku mengusap lengan kanannya dan sesekali kuremas lembut.
Kami berdua larut dalam suasa hening,
jantungku berdesir seolah sedang bermain trampolin di dalam tubuhku.
Sesekali kami salig bertatapan kemudian memalingkan muka. Hingga
kuberanikan diri mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya. Suser Rona
tak menolak, namun ia hanya menundukkan kepalanya. Aku semakin berani
dan kubuah posisiku hingga kami saling berhadapan. Suster Rona menatapku
dan kami kembali saling berciuman. Kali ini suster Rona mencoba
membalas ciuamku, bibir kami saling berpagutan seolah ingin saling
menunjukan kedalaman cinta kami satu-sama lain. Aku yang memang sudah
terbiasa bermain cinta dengan pacar-pacarku, ditambah dengan referensi
film biru yang sering kutonton, membuatku tak puas dengan hal itu.
Kontolku yang sudah tegang saat kami saling berpelukan dibawah payung,
menjadi semakin besar dan mengeras mendesak suster Rona. Kuusapkan
tanganku di punggungnya sambil kami tetap saling berpagutan, sesekali
kuturunka hingga mengenai pantatnya yang memang benar kencang seperti
bayanganku selama ini. Sampai hinga saat aku hendak menyingkapka roknya,
suster Rona melepaskan ciumannya dan kemudian mendorongku agar menjauh.
“Jangan Randy … kita sudah terlalu jauh …. Dan aku rasa kita sudah sangat salah dan berdosa…”
Emosiku bergejolak saat itu, akal sehatku justru semakin hilang saat kudengar kata-kata suster Rona itu.
“Tapi suster … Randy benar-benar sayang sama suster…”
“aku tahu, dan aku juga sayang sama Randy … tapi …”
Aku berjalan mendekat dan kupeluk suster Rona ….
“Ijinka Randy menunjukan rasa sayang Randy,
setidaknya untuk sekali ini saja …” entah setan apa yang merasukiku
sehingga kata-kata itu tiba-tiba kubisikan di telinga suster Rona.
Mata kami kembali beradu seketika bibir kami pun juga kembali berpagutan.
Kutarik tangan kanan suster Rona yang masih
terasa ragu menelusup kedalam celana jeansku, masih terasa susah karena
kami juga masih menikmati lidah kami yang juga saling beradu. Dengan
sigap kubuka kancing dan retsliting celanaku hingga kontolku pun
terbebas mengacung meski masih dalam gengaman suster Rona. Kubimbing
tangannya untuk mengocok kontolku yang besar dan panjang itu.
Aku masih berkonsentrasi dengan bibirnya,
sesekali kuremas payudaranya dari luar bajunya. Hingga saat kocokan
tangannya kurasakan semakin berirama, kutekan kedua bahunya kebawah.
Suster Rona sepertinya sudah sedikit paham dengan maksudku. Ia sudah
dalam posisi berlutut dan dihadapannya sudah mengacung kontolku yang
tegak mengacung, kepalanya menengadah dan kedoa bola matanya menatapku
dalam-dalam.
Tanpa kata-kata seolah Ia tahu apa yang
harus dikerjakan saat kugerakkan pantatku perlahan hingga ujung kontolku
menyentuh bibirnya. Bibirnya yang tipis perlahan terbuka seolah
mempersilahkan kontolku merasakan kehangatan mulutnya. Perlahan
kepalanya mulai bergerak maju-mundur dengan penuh perasaan,
“plop…flop… slrph…’’’
“terus suster … terus sayang …” aku meracau
sekenanya sementara sesekali kulihat suster kesayanganku sudah mulai
mahir memijaat kontol besarku dengan mulutnya .
“Pelan sayang …” aku bahkan memintanya
untuk mengulum penisku perlahan, karena saat itu aku merasa akan segera
mencapai puncaknya.
“Crot … Crot …Crot … Cret …”
“Argh ..hueks … aaaahhhh ….” suster Rona terkejut dan seketka melepaskan kontolku keluar dari mulutnya.
Spermaku pun berjauhan saat ia membuka
mulutnya yang kutembakan beberapa kali bahkan saat ia mencoba melepaskan
kontolku justru tembakan yang tersisa mengenai pipinya.
“Randy … kamu jahat …”
Aku mendekap tubuh kekasihku itu dan
kukecup keningnya, kamipun kembali berpelukan sambil menunggu hujan reda
di tengah hutan itu.
Cerita Seks, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Porno, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Porno, Kisah Seks, Cerita Mendesah
