Cerita Seks Dewasa

Kumpulan informasi Cerita Seks Dewasa Sehat

Cerita Dewasa Balada Dusun Cabul Ngentot Ibu Muda

Sebardong-Situs kumpulan cerita dewasa yang memberikan terbaik buat sobat semuanya. Jangan sungkan untuk berkunjung kembali ke situs sebardong.blogspot.com. Semua cerita/artikel dan gambar kami ambil dari pencarian di Google. Bacalah dengan menggunakan perasaan biar ceritanya lebih bermakna.

Agen poker terbaik dan terpercaya 2016

Siang itu Rendi membawa Mbah Dulmadi, paranormal berusia 60 tahun, untuk membersihkan rumahnya dari kemungkinan gangguan pesaing usahanya.



Sudah tiga tahun ini ritual bersih rumah dilakukan Mbah Dulmadi tiap enam bulan sekali di rumah Rendi. Prosesinya antara lain memercik air bunga ke tiap sudut ruangan di dalam rumah Rendi. Biasanya dilakukan sejak siang hari hingga menjelang malam.






“Maaf Mbah mungkin kali ini saya tidak bisa mengikuti ritual ini sampai selesai, karena saya harus keluar kota untuk kepentingan perusahaan. Tapi istri saya akan tetap di sini membantu Mbah sampai ritual selesai,” kata Rendi di tengah jalannya prosesi ritual.



“Oh begitu. Ya ndak apa pak Jaya, ditinggal saja biar saya selesaikan tugas saya. Lagi pula pembersihan di ruang tamu dan kamar kerja pak Jaya sudah selesai, nanti biar di ruangan lainnya saya teruskan sendiri. Ndak usah suruh nyonya membantu, biar saya kerjakan sendiri,” kata Mbah Dulmadi.



“Eh.. jangan Mbah, biar istri saya membantu ya,” kata Rendi lagi. Ia kemudian memanggil Linda, istrinya di ruang keluarga.



Linda berusia 30 tahun, berwajah ayu, kulit putih, dan tubuhnya sintal. Selama melakukan ritual di rumah Rendi, Mbah Dulmadi memang belum perah melihat Linda dan dua anak Rendi. Setiap ritual dilakukan rumah memang harus dalam keadaan kosong penghuni, kecuali satu orang anggota keluarga yang mendampingi Mbah Dulmadi. Biasanya Rendi menitipkan istri dan anaknya ke rumah mertuanya.



“Ini kenalkan Mbah.. ini Linda istri saya. Mama, kenalkan ini Mbah Dulmadi yang pernah papa ceritakan,” kata Rendi begitu Linda tiba di ruang tamu. Keduanya langsung berjabatan tangan dan berkenalan.



“Iya Mbah.. suami saya harus ke lar kota sekarang, jadi biar ritual pembesihan rumahnya saya yang gantikan untuk membantu Mbah. Si mbok dan anak-anak sudah saya bawa ke rumah opa-omanya,” kata Linda.



“Waduh.. sebenarnya bu Linda ndak usah repot ndak apa.. saya bisa selesaikan sendiri. Tapi lebih baguslah kalau bu Linda mau membantu,” kata Mbah Dulmadi.



Mbah Dulmadi lalu menjelaskan apa saja yang harus dilakukan Linda, antara lain memegang baskom berisi air bunga tujuh rupa dan selalu berada di samping Mbah Dulmadi saat ritual dilakukan di tiap ruangan, untuk memudahkan Mbah Dulmadi memercikan air ke ruangan karena baskom tidak boleh diletakkan di lantai atau media apapun.



“Maaf Mbah, saya potong.. saya harus berangkat sekarang. Mama, papa jalan ya,” kata Rendi lalu pergi meninggalkan Mbah Dulmadi dan Linda di rumah.



Linda manggut-manggut mendengarkan penjelasan Mbah Dulmadi. Meski pekerjaan itu mudah dan bisa dilakukan pembantu , tetapi karena harus anggota keluarga Linda bersedia melakukannya demi kesuksesan suaminya.



“Ruangan tamu ini sudah saya bersihkan, sekarang kita ke ruang keluarga bu Linda,” Mbah Dulmadi berjalan menuju ruang keluarga, Linda membawa baskom air bunga membuntutinya.



Mbah Dulmadi meminta Linda duduk di sofa keluarga pada posisi duduk seperti biasanya saat menonton televisi bersama keluarga. Linda mengikuti lalu duduk di pojok kanan dengan kedua tangan tetap memegangi baskom.



Mulut Mbah Dulmadi komat-kamit membaca mantra dengan mata terpejam, lalu kedua tangannya dimasukkan dalam baskom yang dibawa Linda, dan mulai memercikkan air ke ruang itu berkeliling dari sudut ke sudut.



Setelah selesai, ritual kemudian pindah ke kamar tidur utama, kamar tidur Rendi dan Linda di lantai dua. Mbah Dulmadi kembali meminta Linda tidur di ranjang pada posisi seperti biasanya, dan Linda menuruti, berbaring dengan tetap memegang baskom air bunga di atas perutnya.



“Oh.. maaf bu Linda.. saya lupa memberi tahu. Kalau bisa busananya juga harus diganti dengan baju tidur yag biasa dipakai sehari-hari di kamar tidur ini,” kata Mbah Dulmadi.



Linda sedikit terkejut mendengarnya sebab Rendi tidak pernah bercerita tentang itu. Tapi akhirnya ia menurut juga. Mbah Dulmadi keluar ruangan membiarkan Linda bersalin pakaian.



“Sudah Mbah.. silahkan diteruskan,” Linda mengenakan daster tipis merah muda yang biasa dipakai saat tidur. Ia merasa agak risih juga ketika Mbah Dulmadi masuk ke kamar, karena kebiasaan setiap tidur Linda tak pernah menggunakan pakaian dalam, CD dan Bra.



Mbah Dulmadi menangkap kerisihan Linda, apalagi daster tipis membuat putting susu Linda membekas jelas.



“Ndak usah risih bu Linda.. ini demi ritual. Bu Linda memang cantik dan sexy, tapi Mbah kan sudah tua, sudah ndak bisa bangun.., jadi ndak mungkin berbuat macam-macam,” kata Mbah Dulmadi tersenyum. Linda kemudian berbaring seperti semula dan Mbah Dulmadi melanjutkan ritualnya.



Kata-kata Mbah Dulmadi membuat Linda lega, sebab sesuatu bisa saja keluar dari rencana bila seorang wanita seperti Linda berada sekamar dengan pria lain yang normal.



Tapi.. apa iya Mbah Dulmadi sudah nggak bisa bangun?. Pertanyaan itu justru berkeliaran di benak Linda. Ia memandangi sosok Mbah Dulmadi yang masih berdiri merapal mantra-mantra membelakanginya.



Usia Mbah Dulmadi memang sudah tua, rambut, kumis dan jenggotnya sudah memutih sebagian. Tapi fisiknya masih kelihatan sangat bugar. Tingginya sekitar 180 cm, lebih tinggi dari Rendi. Linda pun hanya sebatas dagunya kalau berdiri berdampingan.



Tubuh Mbah Dulmadi juga nampak kekar dilapisi kulit hitam legam. Saat tangan Mbah Dulmadi membasuh di baskom, Linda bisa melihat jemari-jemarinya yang kekar dengan buku-buku jari yang besar-besar.



Apa iya Mbah Dulmadi sudah impoten, seperti katanya barusan? Lagi-lagi pertanyaan itu mengecamuk di bathin Linda. Diam-diam ia membayangkan bagaimana perkasanya Mbah Dulmadi saat masih muda.



“Bu Linda sudah selesai bu..,” Mbah Dulmadi mencolek bahu Linda yang melamun.



“Oh.. eh.. iya Mbah.. sudah ya?,” Linda malu sendiri karena ketahuan sedang melamun.



“Ibu kenapa? Kok sepertinya ada yang dipikirkan?,” tanya Mbah Dulmadi menatap Linda.



“Eh.. nggak Mbah. Ah anu.. saya tiba-tiba kepikiran tentang mimpi-mimpi serem yang sering saya alami belakangan ini. Apa bisa Mbah mengusirnya?,” Linda sembarang celetuk mengarang cerita untuk menutupi malu. Tapi cerita karangannya justru menjebaknya dalam situasi makin rumit akhirnya.



“Oh itu. Bisa bu.. nanti setelah pembersihan rumah saya akan lihat apa penyebabnya ya.. mungkin ada yang mengganggu ibu,” kata Mbah Dulmadi.



Ritual dilanjutkan ke kamar mandi di dalam kamar tidur utama. Di sini Linda jadi serba salah, karena ia harus berada pada posisi seperti biasanya. Tapi kegundahan Linda terobati setelah Mbah Dulmadi mengatakan tak harus telanjang, tetapi cukup dengan melilit handuk di tubuhnya.



Linda berdiri di bawah shower dengan handuk biru melilit tubuhnya dan kedua tangan memegangi baskom air bunga. Mbah Dulmadi kemudian mengaktifkan shower sehingga tubuh Linda kuyub tersiram bersama handuk yang dipakainya.



Mbah Dulmadi mulai memejam mata dan merapal mantra-mantra, kemudian mulai memercik air ke sudut-sudut kamar mandi.



Belum lagi usai prosesi di kamar mandi itu, tiba-tiba lilitan handuk di tubuh Linda melonggar karena siraman shower. Linda panik dan berusaha menahan agar handuk tidak melorot, tapi terlambat, ujung handuk kanterjuntai ke bawah membuat hanya bagian kiri tubuh Linda yang tertutup.



Astaga, bagaimana ini, pikir Linda tak karuan. Tubuhnya telanjang bulat di bagian kanan, tepat di hadapan Mbah Dulmadi. Bagaimana kalau Mbah Dulmadi tidak lagi terpejam? Pasti semua kebugilannya terlihat jelas.



Masih dalam kepanikan Linda, Mbah Dulmadi tiba-tiba mengamit ujung handuk yang luruh, kemudian membantu melilitkan di tubuh Linda.



“Maaf bu Linda.. saya bantu membenarkannya ya,” katanya, sementara Linda tak bisa bersuara. Mbah Dulmadi kemudian melanjutkan prosesi ritualnya.



Linda kembali didera beragam pertanyaan dan perasaan aneh tentang Mbah Dulmadi. Saat membenahi handuk di tubuh Linda, jemari Mbah Dulmadi sempat menyusup dan menyentuh kulit mulus di pangkal buah dadanya. Ada desiran aneh menjalari Linda saat kulit kasar Mbah Dulmadi menggesek pangkal buah dadanya. Desiran yang selama ini mulai jarang dirasakan bersama Rendi, suaminya.



“Sekarang prosesi sudah selesai bu. Apa ibu jadi mau menyelesaikan masalah mimpi buruknya?,” suara Mbah Dulmadi mengejutkan Linda.



“Bu Linda bisa pakai daster lagi.. dan saya akan merowah ibu,” kata Mbah Dulmadi sambil keluar kamar mandi ke kamar tidur, sementara Linda kembali mengenakan daster tipisnya.



Mbah Dulmadi meminta Linda berbaring di ranjang, Linda menurut dengan hati berdebar-debar tak karuan. Dengan posisi duduk di sisi ranjang, Mbah Dulmadi meletakkan telapak tangan kanannya di dahi Linda sambil merapal mantra. Linda mengamati Mbah Dulmadi yang terpejam berkomat-kamit. Wajah Mbah Dulmadi masih meninggalkan gurat-gurat ketampanan, semakin terkesan jantan dengan tulang rahang yang menonjol.



“Ehm.. apa kira-kira penyebab mimpi-mimpi itu Mbah,” Linda beranikan diri bertanya. Mbah Dulmadi membuka mata dan menatap mata Linda membuat Linda salah tingkah.



“Hmm.. maaf bu Linda. Sepertinya ada yang berusaha mengguna-gunai ibu, dan sudah masuk sebagian merasuk ke aliran darah ibu. Mungkin saingan usaha pak Rendi yang sudah kewalahan tak bisa menembus pak Jaya kemudian menyasar ibu,” jawab Mbah Dulmadi.



Linda jadi takut. Bukankah soal mimpi buruk itu hanya karangannya? Tapi soal guna-guna, jangan-jangan memang benar sudah merasuk di tubuhnya.



“Apa berbahaya Mbah?,” tanya Linda ketakutan.



“Kalau tidak segera dibersihkan bisa bahaya bu. Kalau tidak kuat ibu bisa hilang akal sehat, bisa gila. Tapi untung cepat terdeteksi,” kata Mbah Dulmadi.



Mbah Dulmadi kemudian menjelaskan bahwa untuk mengusir guna-guna dan membersihkan yang sudah terlanjur merasuk ke dalam aliran darah, maka Linda harus menjalani ritual pembersihan seperti ritual pembersihan rumah. Caranya dengan dimandikan air kembang tujuh rupa oleh Mbah Dulmadi.



Mbah Dulmadi meminta Linda tetap berbaring, sementara ia mengambil baskom air kembang sisa prosesi tadi di kamar mandi.



Setelah kembali duduk di sisi ranjang, Mbah Dulmadi mulai merapal mantra dan memercikkan air kembang ke sekujur tubuh Linda, mulai kepala sampai kaki.



“Maaf bu, mungkin sedikit risih.. tapi jangan dirasakan ya, karena perlawanan bisa menggagalkan ritualnya,” kata Mbah Dulmadi. Belum sempat Linda menjawab, telapak tangan Mbah Dulmadi mulai menelusuri tubuh Linda seolah mengolesi dengan air kembang.



Linda tak punya pilihan. Ketakutannya mengalahkan akal sehatnya, dan ia menuruti apa saja perkataan Mbah Dulmadi. Ia merasakan tangan Mbah Dulmadi mengusap-usap lehernya lalu turun ke dada. Usapan berlanjut ke dua buah dada Linda membuat Linda merasakan desiran aneh luar biasa.



Daster tipis tanpa bra membuat telapak tangan Mbah Dulmadi sangat terasa menyentuh dan mengusapi putting susu Linda. Linda memejamkan mata dan berhayal yang sedang mengelus tubuhnya adalah Rendi suaminya. Maksud Linda adalah untuk menghilangkan risih yang sedang melanda dirinya. Lagipula, bukankah Mbah Dulmadi impoten? Begitu pikirnya.



Tapi niat Linda justru menyeretnya ke posisi yang lebih sulit. Dengan membayangkan suaminya yang sedang mengusap tubuhnya, libido Linda malah terpacu dan gairah seksnya meninggi.



Linda merasakan tangan Mbah Dulmadi mulai menjalar ke kakinya. Sentuhan nikmat mulai dirasakan Linda di bagian pahanya, tanpa disadari tangan Mbah Dulmadi terus menelusup bagian bawah daster, dan mulai mengusapi kulit paha Linda.



“Aahh.. mas Jaya..,” Linda mendesis mencoba membendung gairahnya, pikirannya semakin tertuju pada Rendi yang sedang menjelajahi tubuhnya.



Mbah Dulmadi menangkap libido Linda yang mulai meningkat, ia kemudian memberanikan diri mengusapi pangkal paha Linda dan sesekali tangannya menyetuh bibir kemaluan Linda yang tidak terbungkus CD. Linda menggelinjang dan mulai melebarkan kakinya memberikan ruang lebih luas bagi sentuhan Mbah Dulmadi.



Daster bagian bawah sudah tergulung sampai ke perut Linda, paha mulus dan rambut tipis di kemaluan Linda terpampang jelas di hadapan Mbah Dulmadi. Mbah Dulmadi ingin sekali mengusapi kemaluan Linda, bagaimana pun ia lelaki normal dan masih bisa ereksi di usia tuanya. Pengakuan impoten dilakukan Mbah Dulmadi sebenarnya hanya agar kliennya merasa nyaman saat ritual dilakukan. Tapi Mbah Dulmadi tak berani melangkah lebih jauh karena takut dilaporkan ke Rendi, sebab selama dua tahun ini Rendi sudah menjamin perekonomian keluarganya bahkan sampai ia mampu mengkuliahkan anaknya.



“Ehmm.. maaf bu Linda..,” suara Mbah Dulmadi menyadarkan Linda.



“Oh.. eh.. iya Mbah. Sudah selesaikah?,” Linda terkejut membuka mata, gelagapan bercampur malu menyadari dirinya bugil di bagian bawah, dan segera membenahi letak dasternya. Nafas Linda sedikit berat desiran kenikmatan masih tersisa padanya.



“Belum bu, guna-gunanya cukup kuat dan sudah merasuk jauh ke aliran darah bu Linda,” Mbah Dulmadi kini yang mulai mengarang cerita.



“Daster ini menyulitkan saya melakukan ritual.. karena sebetulnya harus kulit tubuh bu Linda yang langsung dibaluri air kembang,” katanya tanpa menunggu reaksi Linda.



Rasa takut gila karena guna-guna ditaMbah desir kenikmatan yang terlanjur ia rasa akibat sentuhan jemari Mbah Dulmadi membuat Linda sama sekali berada di bawah konrol Mbah Dulmadi. Ia menuruti perkataan Mbah Dulmadi untuk menanggalkan dasternya, dan untuk tidak bercerita pada Rendi suaminya tentang ritual mereka.



“Silahkan Mbah.. dilanjutkan ritualnya. Yang penting saya sembuh Mbah,” kata Linda yang sudah kembali berbaring dalam keadaan telanjang.



Mbah Dulmadi terbelalak tak percaya, betapa tubuh mulus istri Rendi terpampang telanjang di hadapannya menunggu disentuh dan dijelajahi olehnya.



Dengan sikap serius seolah ritual sesungguhnya, Mbah Dulmadi kembali komat-kamit dan mulai menyentuh Linda. Air kembang dipercikkan lalu tangan Mbah Dulmadi menelusuri buah dada Linda, sebentar kemudian ke perut, tetapi kemudian kembali lagi ke buah dada.



Linda memejam dan menggelinjang merasakan sentuhan langsung telapak tangan kasar Mbah Dulmadi di kulit mulusnya. Tangan kiri Mbah Dulmadi mulai meremasi buah dada Linda bergantian, sebelah kanan dan kiri, sementara tangan kanannya menelusur ke bawah mengusapi paha dan selangkangan Linda.

Linda memejam dan menggelinjang merasakan sentuhan langsung telapak tangan kasar Mbah Dulmadi di kulit mulusnya. Tangan kiri Mbah Dulmadi mulai meremasi buah dada Linda bergantian, sebelah kanan dan kiri, sementara tangan kanannya menelusur ke bawah mengusapi paha dan selangkangan Linda.
Nafas Linda semakin berat saat merasakan sentuhan Mbah Dulmadi mulai menjelajahi di bagian vitalnya. Linda ingin melawan dan menolak, tetapi rasa takut akan guna-guna dan kenikmatan yang sedang melanda mengalahkan perasaan risihnya. Ia memutuskan untuk kembali membayangkan bahwa suaminya yang sedang menjelajahi tubuhnya.
Mbah Dulmadi mengangkangkan kedua kaki Linda membuat kemaluan Linda semakin jelas terlihat. Perlahan ia memberanikan diri membelai lebih intens permukaan kemaluan Linda, ia merasakan cairan kemaluan Linda mulai merembes keluar membuat permukaannya semakin licin berlendir.
“Ahhhsss..,” Linda mendesis tak kuasa menahan kenikmatan sentuhan-sentuhan di tubuhnya. Ia merasakan sesuatu menguak bibir kemaluannya dan saat yang sama putting susunya terasa dipilin-pilin, diremas-remas.
Di saat libidonya semakin tak terbendung, Linda merasakan sesuatu yang hangat menyapu-nyapu bibir kemaluannya. Benda lunak bertekstur kasar itu mulai menyapu kemaluannya secara rutin berirama.
“Ouhh.. ahhss. Mbah, kenapa digituin?,” Linda terperanjat saat menyadari kini kepala Mbah Dulmadi seolah tenggelam diselangkangannya. Rupanya benda hangat yang nikmat menyapu kemaluannya adalah lidah Mbah Dulmadi yang menjilatinya.
“Eh.. oh.. maaf bu Linda, ini harus saya lakukan untuk menyedot guna-gunanya. Ini sudah hampir selesai. Tapi kalau ibu keberatan.. saya minta maaf bu Linda,” Mbah Dulmadi nampak khawatir Linda marah dan melaporkannya pada Rendi.
Tapi ternyata Linda tidak marah. Ia malah kembali memejamkan mata dan melebarkan dua kakinya memberi isyarat pada Mbah Dulmadi untuk melanjutkan jilatan-jilatannya.
Benak Linda berJayati membayangkan Rendi suaminya, sebab selama menikah hingga punya dua anak, sekali pun tak pernah Rendi menjilati kemaluan Linda. Padahal dari film-fim porno yang mereka nikmati bersama selama ini, Linda ingin sekali merasakan bagaimana jika kemaluannya disentuh dengan lidah, dijilati dan dihisap.
“Ahhk.. Mbah..,” Linda mulai terbawa gairahnya. Mbah Dulmadi, lelaki tua yang baru dikenalnya ternyata tidak jijik menjilati vitalnya, tidak seperti suaminya yang merasa jijik kalau harus menjilati kemaluan Linda.
Tanpa disadari tangan Linda mulai meraih rambut Mbah Dulmadi di selangkangannya dan berusaha menekan agar jilatan di kemaluannya lebih terasa.
Kumis dan jenggot Mbah Dulmadi yang kasar menaMbah rasa geli di kemaluan Linda. Lidah Mbah Dulmadi semakin leluasa menjelajahi gundukan kemaluan Linda yang sudah sangat basah berlendir. Rintihan Linda semakin keras dan sering terdengar.
Mbah Dulmadi turut terpacu libidonya, sambil terus menjilat dan menghisap bibir kemaluan Linda, tangganya mulai memelorotkan celana kolor hitamnya. Kemaluannya mengacung tegang kemudian dikocok-kocok dengan tangan kirinya, sambil membayangkan ia sedang menyetubuhi Linda.
Linda mulai merasakan sensasi disekitar kemaluannya, seperti ada hawa panas menjalar di pangkal pahanya. Hawa panas itu terus mendesak dan berkumpul dipusat klitorisnya, semakin lama semakin mendesak setiap kali jilatan Mbah Dulmadi menerpa. Kedutan-kedutan mulai ia rasakan di kemaluannya. Tangannya semakin meremas kencang rambut Mbah Dulmadi. Sementara pinggulnya tergetar hebat seperti Jayadak menguyak kepala Mbah Dulmadi di jepitan pahanya.
“Ouhh.. mbaahhhh… akkkssshhh…,” Linda setengah menjarit ketika kumpulan hawa panas itu meledak mencapai puncak kenikmatannya. Di saat bersamaan kocokan tangan Mbah Dulmadi membuat kemaluannya terasa Jayadak meledak menyeburkan sperma kenikmatan. Tangannya segera menyembar daster Linda yang luruh di ranjang, lalu menghadang semburan spermanya menggunakan daster Linda.
Linda lunglai tak bertenaga, masih terpejam menikmati sisa-sisa puncak kenikmatannya. Mbah Dulmadi duduk di sisi ranjang kembali menyaksikan wajah cantik Linda setelah puncak kenikmatannya.
“Sudah tuntas bu Linda.. sudah keluar semuanya,” kata Mbah Dulmadi. Linda tak mampu bicara, ia merasa lemas bercampur malu menyadari lelaki lain sudah melihat tubuhnya. Ia lalu duduk dan mengamit selimut untuk menutupi tubuh bugilnya, bersandar di kepala ranjang.
“Bagaimana rasanya bu Linda?,” tanya Mbah Dulmadi.
“Hmm.. nikmat Mbah..,” jawab Linda tanpa sadar.
“Maksud bu Linda?,” Mbah Dulmadi seolah memancing.
“Oh.. eh.. anu.. maksud saya. Maksud saya sudah agak ringan sekarang, mungkin karena guna-gunanya sudah keluar,” kata Linda malu.
Tiba-tiba pikiran Linda kembali tertuju pada fisik Mbah Dulmadi. Apa benar si Mbah tidak ereksi kemaluannya saat memperlakukannya seperti tadi.
“Mbah.. maaf ya kalau saya tanya. Apa tadi Mbah tidak merasakan gairah seks? Waktu menghisap guna-guna dari tubuh saya tadi?. Apa anu Mbah tidak tegang?,” ia beranikan bertanya untuk menjewab penasarannya.
“Kan Mbah sudah bilang.. Mbah impoten bu Linda. Ibu mau lihat?,” Mbah Dulmadi langsung berdiri tanpa menunggu jawaban Linda, ia langsung melorotkan celana hitamnya tanpa CD.
Kemaluan Mbah Dulmadi menggelantung keluar, nampak lagi tanpa ketegangan sebab klimaksnya sudah sampai dengan onani tadi.
Linda terbelalak memperhatikan bentuk kemaluan Mbah Dulmadi. Dalam kondisi tidur kemaluannya itu tetap besart, lebih besar dari milik Rendi. Pikirannya kembali tak karuan, bagaimana besarnya kalau kemaluan hitam Mbah Dulmadi itu tegang?.
“Ndak sebesar punya pak Jaya ya bu?,” tanya Mbah Dulmadi.
“Eh.. hmm.. hampir sama kok,” jawab Linda. Ia malu mengakui kemaluan Rendi tergolong kecil, apalagi dibanding kemaluan Mbah Dulmadi.
Tapi Mbah Dulmadi sudah tahu kalau kemaluan Rendi ukuran mini. Sebab selama ritual pembersihan rumah sebelumnya, Mbah Dulmadi sudah melihat kemaluan Rendi ketika pembersihan tanpa busana di kamar mandi. Rendi bertubuh tambun dengan perut membuncit. Kemaluannya pun tidak bertahan lama kalau bersetubuh dengan Linda.
 “Ya sudahlah bu Linda, Mbah pamit pulang ya. Ndak enak kalau pak Jaya datang, nanti jadi salah paham melihat kita berdua di kamar ini dalam kondisi begini,” Mbah Dulmadi merapikan celananya dan bersiap keluar kamar. Linda ikut bangkit dengan melilit selimut menutupi tubuhnya.
 “Sebentar Mbah.. ini ada sesuatu dari saya untuk istri dan anak Mbah di rumah,” Linda mengeluarkan beberapa lembar uang dari lemari dan menyisipkannya di kantung baju hitam Mbah Dulmadi. Mbah Dulmadi tak menolak pemberian itu, anggap saja rejeki taMbahan.
“Hmmm Mbah.. satu pertanyaan lagi boleh ya? Apa Mbah sudah tidak pernah bersetubuh sama istri?,” kata Linda.
“Oh ndak apa kalau ibu ingin tahu. Sebenarnya ya masih bu kadang-kadang. Tapi anu Mbah baru bisa berdiri di saat-saat tertentu tanpa Mbah tahu. Ya sudah Mbah pamit permisi bu,” jawab Mbah Dulmadi lalu pergi meninggalkan rumah Rendi.

Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Porno, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Porno, Kisah Seks.


Share this article :
+
Previous
Next Post »
 
Copyright © 2014 Cerita Seks Dewasa - All Rights Reserved
Powered By CERITAMALAM