Sebardong - Situs kumpulan cerita dewasa yang memberikan terbaik buat soba semuanya. Jangan sungkan untuk berkunjung kembali ke situs sebardong.blogspot.com Semua cerita/artikel dan gambar kami ambil dari pencarian di Google. Bacalah dengan menggunakan persaaan biar ceritanya lebih bermakna.
Kenalkan nama saya, Anis. Usia 38 tahun, tinggi 150 cm dan berat badan 60 kg, warna kulit coklat kehitaman serta rambut lurus.
Sekitar 40 hari
yang lalu, tepatnya di hari minggu sekitar jam 5.00 subuh. Aku keluar
rumah untuk olah raga atau berlari subuh sebagaimana yang kulakukan
setiap hari minggu subuh. Namun, kali ini lari subuh yang kulakukan
sangat bermakna, sebab aku ditemani oleh seorang tetangga dekat. Sebut
saja namanya "Dirga". Dia adalah istri sah orang lain yang sudah
memiliki 2 orang anak, tapi penampilannya masih cukup menarik. Kulitnya
mulus, putih dan tubuhnya langsing.
Ketika aku
keluar melewati pintu pagar, secara samar-samar aku melihat sesosok
tubuh dengan kaos warna hitam melekat di tubuhnya serta celana setengah
panjang tergantung di atas lututnya membuka pintu rumahnya lalu
mengikutiku. Aku tetap saja jalan agak cepat dan berpura-pura tidak
memperhatikannya, tapi saat aku memasuki sebuah lorong, iapun semakin
dekat di belakangku. Aku sangat yakin kalau Dirga sengaja mengejarku
untuk berlari subuh bersama.
"Pak, tunggu
Pak" panggilnya dari belakang, tapi aku tetap berlari, tapi sengaja
kukurangi kecepatannya agar ia bisa lebih dekat denganku.
"Pak Nis, tunggu donk Pak, aku capek nih, kita sama-sama aja" teriaknya dengan suara yang tidak terlalu keras.
Setelah
kudengar nafasnya terengah-engah karena jaraknya sudah semakin dekat
denganku, mungkin sekitar 10 meter di belakangku, aku lalu berhenti
menunggunya, sebab kedengarannya ia capek sekali.
"Ada apa Bu, kenapa ibu mengejarku?" tanyaku sambil berhenti.
"Tidak ada
apa-apa. Aku hanya mengejar bapak agar kita bisa lari bersama, biar
lebih santai dan kita bisa sambil ngobrol" katanya dengan nafas
terputus-putus karena kecapean.
Setelah Dirga
berada di samping kiriku, kami lalu lari bersama, tapi kali ini tidak
terlalu kencang, bahkan terkesan lari-lari kecil, yang penting tubuh
kami bisa bergerak-gerak sehingga terkesan berolahraga pagi.
"Ngomong-omong, apa ibu juga secara rutin lari subuh setiap hari minggu?" tanyaku pada Dirga sambil berlari kecil.
"Nggak kok,
cuma kebetulan kudengar pintu rumah bapak terbuka dan kulihat bapak
keluar berpakaian olah raga, sehingga tiba-tiba aku juga tertarik untuk
menyegarkan tubuh dan menghirup udara subuh" jawabnya.
"Kenapa Nggak sekalian keluar sama suami ibu atau anak-anak ibu?" tanyaku lagi sambil tetap berlari.
"Anu Pak, suami
saya itu baru saja pulang dari jaga malam, maklum kerjaan satpam jarang
sekali bermalam di rumah" jawabnya santai.
Kebetulan suami
Dirga tugas malam sebagai satpam pada salah satu perusahaan swasta di
kota kami. Mendengar ucapan Dirga itu, aku jadi terpancing untuk
bertanya lebih jauh tentang kehidupan rumah tangganya. Apalagi kami
sudah sering bicara humor. Aku sangat paham kalau Dirga orangnya
terbuka, lugu dan sedikit genit. Aku merasa berpeluang besar untuk
bertanya lebih banyak padanya soal hubungannya dengan suaminya.
"Maaf Bu, kalau
aku terlalu jauh bertanya. Jadi kedua anak ibu itu dicetak pada siang
hari semua donk, sebab suami ibu jarang berada di rumah pada malam
hari," kata saya pada Dirga, namun ia tetap tidak tersinggung, bahkan
nampaknya ia tetap bersikap biasa-biasa saja.
"Bukan pada
siang hari Pak, tapi pada subuh dan pago hari, sebab biasanya suami saya
pulang pada subuh hari dan langsung saja mengambil jata malamnya,
apalagi dalam keadaan ia haus," katanya santai.
Setelah capek,
kami beristirahat sejenak di atas jembatan sambil bersandar di pagar
besi jembatan. Kebetulan di atas jembatan itu, banyak orang sedang
ngobrol dan membahas masalahnya masing-masing.
"Bu Dir, kalau
begitu waktu anda berhubungan dengan suami anda selalu singkat dan
dilakukan secara terburu-buru, sebab anak-anak anda sudah mulai bangun,
lagi pula suami anda sangat ngantuk" pancingku padanya.
"Yah begutulah
kebiasaan kami, lalu mau apa lagi jika memang waktunya yang paling tepat
hanya saat itu. Sebab di siang hari, anak-anak kami pada berkeliaran
dalam rumah dan tamu-tamupun yang datang harus disambut" katanya serius,
tapi tetap santai.
"Kalau begitu anda tidak pernah menikmati hubungan suami istri yang sebenarnya sebagaimana layaknya suami istri" pancingku lagi.
"Kok kenapa
tidak, kami merasa sama-sama menikmatinya. Buktinya kami punya dua orang
anak" katanya serius sekali sambil memandangiku.
Tanpa berhenti
bicara, kami lalu berjalan lagi memutar ke jalan menuju rumah kami
kembali. Aku coba memikirkan apa lagi yang dapat kutanyakan pada Dirga
mengenai hubungannya dengan suaminya. Ini kesempatan emas bagiku untuk
mengetahui lebih dalam lagi tentang kehidupannya di atas ranjang bersama
suami, sebab aku berniat membuat ia penasaran agar merasa membutuhkan
sex lebih dari yang didapatkan dari suamianya. Aku sebenarnya ingin
merangsang dia agar mau melakukan bersama denganku.
"Bu Dir, sex
itu sebenarnya melebihi dari apa yang anda lakukan bersama suami anda.
Suami-Istri harus menikmati kepuasan berkali-kali minimal selama 3 jam
tanpa sedikitpun rasa tergesa-gesa dan takut. Menerapkan berbagaimacam
gaya dan posisi. Anda tentu tidak sempat menikmati semua itu khan?"
jelas saya pada Dirga panjang lebar.
"Oh yah, tapi bagaimana caranya jika suamiku tidak memungkinkan melakukan hal itu atau tidak mau melakukannya?" tanyanya serius.
Nafas Dirga
sangat keras kedengaran ketika ia selesai menanyakan hal itu, bahkan
sempat memandangiku dengan penuh harap dan bergairah.
"Sekiranya ada
orang lain yang bersedia memberikan kenikmatan itu pada Ibu Dirga, apa
ibu tidak keberatan menerimanya?" tanyaku lebih berani.
"Orang lain siapa misalnya?" tanyanya sambil berhenti.
"Sa.. Sa.. Saya misalnya. Maaf ini hanya sekedar misal Bu" jelasku sedikit khawatir kalau-kalau ia tersinggung dan memarahiku.
"Be.. Betulkah ucapan bapak itu? Mana bapak mau sama saya" ucapannya.
"Boleh saja
terjadi jika memang hal itu sama-sama dibutuhkan, apalagi terhadap
wanita cantik lagi muda seperti ibu Dirga ini" ucapku sambil tersenyum
memandangi wajah ibu Dirga yang bertubuh langsing itu.
"Ha.. Ha.. Ha, bisa aja bapak ini. Gombal ni yee" katanya terbahak.
"Betul Bu. Aku serius. Aku tidak main-main nih.." kataku tegas.
Mendengar
ketegasanku itu, Ibu Dirga tersentak kaget dan tiba-tiba meraih tanganku
lalu mengajakku berhenti di pinggir jalan. Sambil kami berhadap-hadapan
dengan jarah sekitar 2 jengkal. Dirga lalu berkata:
"Bila ucapan
bapak itu benar dan serius, akupun serius dan bersedia. Tapi bagaimana
caranya Pak agar perbuatan kita lebih aman?" tanyanya.
"Suamimu biasanya bangunnya jam berapa?" tanyaku lebih mengarah lagi.
"Biasanya jam 11.00 atau 12.00 siang" jawabnya serikus sekali.
"Kebetulan
sekali istri dan anak-anakku mau pulang kampung membesuk keluarga.
Mungkin jam 5.00 sore baru balik. Bagaimana kalau ibu bilang sama
anaka-anaknya bahwa ibu mau ke pasar, lalu ibu masuk ke rumahku?"
tawaranku lebih lanjut.
"Oke, tunggu saja Pak. Sebentar aku akan masuk dari pintu belakang rumah bapak biar tidak ada yang melihatku" katanya berbisik.
Setelah kami
sepakat, kami lalu berpisah dan lewat jalan yang berbeda agar tetangga
tidak curiga pada kami, apalagi sudah jam 6.30 menit.
Hanya sekitar 5
menit setelah aku masuk ke rumah, pintu belakang rumah kelihatan
terbuka dengan pelan. Ternyata Ibu Dirga menepati janjinya. Ia masuk
dengan pelan tanpa mengganti pakaian yang dipakainya tadi. Hanya saja
bau tubuhya terasa lebih harum menyengat di hidungku.
"Bu, adakah yang melihat ibu ke sini?" tanyaku setelah aku menutup dan mengunci pintu depan dan belakang.
"Tidak ada Pak.
Suamiku masih tertidur nyenyak dan anak-anakku lagi main di luar dengan
teman-temannya. Aku mengunci pintu dari luar" katanya sambil jalan
menuju tempat tidurku.
Setelah kami
duduk berdampingan di pinggir tempat tidur, kami sempat bertatapan muka
tanpa sepata katapun sejenak. Namun, karena kami sudah saling penasaran
dan saling terbakar nafsu, maka kami lalu segera berbalik arah sehingga
kami saling berhadap-hadapan dengan jarak yang dekat sekali. Karena
dekatnya, maka nafas Dirga terasa menyapu hidungku yang membuat aku
sedikit gemetar.
"Ayo Bu kita mulai permainannya" pintaku sambil kuulurkan kedua tanganku untuk meraih kedua tangannya.
"Terserah bapaklah. Aku turuti saja kemauan bapak" katanya sambil menatap wajahku.
Mula-mula aku
menyentuh kedua tangannya, lalu naik ke lengan, bahu, leher, pipi dan
telinganya sampai mengelus-elus rambut dan dagunya. Dirga hanya diam
menerima perlakuanku. Namun setelah kedua tanganku merangkul punggungnya
dan mencium pipi dan bibirnya, iapun mulai bergerak membalasnya,
sehingga kami saling berpagutan dan mengisap.
"Boleh saya
masukkan tanganku Bu?" tanyaku sambil menyelusupkan kedua tanganku masuk
di balik kaos yang dipakainya dan secara perlahan menembus masuk di
balik BH tipis yang dikenakannya. Dirga hanya mengangguk sambil
merangkulku dengan keras dan merapatkan tubhnya di tubhku, sehingga
terasa hangatnya di dadaku.
"Boleh kubuka pakaiannya Bu?" tanyaku lagi setelah puas memainkan kedua payudaranya dari dalam pakaiannya.
Ia lagi-lagi
hanya mengangguk dan melonggarkan rangkulannya guna memudahkan aku
melucuti pakaiannya. Setelah kaos dan BH yang dikenakannya semuanya
terlepas dari tubuhnya, aku sejenak melepaskan rangkulan dan pagutan
untuk memperhatikan indahnya bentuk tubuhnya yang telanjang, terutama
kedua payudaranya yang tergantung di dadanya. Aku sempat terperangah
ketika menyaksikan kedua payudaranya yang sangat putih dan mulus, bahkan
ukurannya cukup sederhana dan masih keras seperti belum pernah terjamah
saja. Maklum kedua anaknya tidak pernah menetekinya, sebab keduanya
sejak lahir memang dibiasakan meminum air susu kaleng dengan botol.
Setelah puas
memandanginya, aku segera meraih kedua bukit kembarnya dan menyerangnya
secara bergantian dengan mulutku. Kuhisap putingnya berkali-kali agar ia
cepat terangsang. Dirga hanya bergelinjang dan berdesis.
"Aduh, cepat
buka Pak, aku sudah tidak tahan nih. Ayo Pak" pintanya berkali-kali,
namun aku sengaja tidak peduli ucapannya. Bahkan aku semakin mempercepat
isapanku pada teteknya, lehernya, pusarnya dan seluruh tubuh
telanjangnya.
"Ayo donk Pak, buka cepat pakaiannya, aku sudah tak tahan" pintanya lagi.
Kali ini kubuka
bajuku lalu celana panjang yang kupakai berlari tadi. Setelah tersisa
hanya celana kolorku saja, aku lalu menurunkan celana setengah panjang
yang dikenakannya, sehingga kami sama-sama setengah bugil. Kami saling
berpelukan dan bergulingan di atas kasur sambil saling meraba seluruh
tubuh. Setelah itu aku mengangkanginya, lalu menelanjanginya setelah
menelanjangi diriku. Kini kami sudah sama-sama bugil tanpa sehelain
benangpun menutupi tubuh kami.
"Pak, ayo dong
Pak. Masukkan cepat, aku sudah ingin sekali menikmatinya biar cepat
selesai" bisiknya sambil menarik tubuhku lebih dekat ke arah
kemaluannya.
Aku patuhi
permintaannya. Aku dengan mudah membuka kedua pahanya, sehingga nampak
jelas kelentitnya yang mungil berwarna merah jambu muda. Terasa sedikit
basah oleh cairan pelicin yang keluar dari sela-sela vaginanya.
Bulu-bulu yang tumbuh di sekitarnya cukup tipis dan rapi seolah terawat
dengan baik.
"Tahan donk
sayang, waktu kita masih panjang. Lagi pula kan aku akan tunjukkan semua
permainanku yang belum pernah ibu rasakan" pintaku sambil meraba-raba
dan sesekali menusuk-nusuk dengan telunjuk pada lubang yang sedikit
menganga di antara kedua pahanya itu.
"Boleh kucium dan kujilat inimu Bu?" tanyaku sambil mendekatkan kepalaku ke selangkangannya.
"Terserah dech, tapi jangan lama-lama, sebab aku semakin tak tahan lagi" katanya pasrah.
Dirga
bergelinjang kuat. Pantatnya terangkat-angkat ketika aku
menusuk-nusukkan lidahku ke lubang kemaluannya, apalagi saat aku
menggigit-gigit kecil kelentitnya yang agak keras dan kenyal itu. Ia
semakin berdesis dan setengah berteriak akibat perlauanku yang
mengasyikkan itu. Ia sangat menikmatinya, bahkan menekan kepalaku lebih
dalam lagi.
"Boleh kumasukkan sekarang Bu?" tanyaku meski aku yakin ia sangat mendambakannya dari tadi.
Secara berlahan
tapi pasti, ujung kontolku mulai menyentuh kelentitnya lalu bergeser
mencari lubangnya. Setelah ketemu, sedikit demi sedikit mulai menyelusup
masuk. Bahkan ketika masuk separoh, aku berniat berlama-lama disiti,
tapi dasar wanita yang sudah sangat penasaran, maka ia segera menarik
punggungku dan mengangkat tinggi-tinggi pantatnya, sehingga kontolku
amblas seluruhnya tanpa bisa lagi kukendalikan.
"Aahhkkhh..
Uukk.. Hhmm.. Eeanaakk.. Sesekaali. Teerus Pak, ayoo.. Gocokk.. Llrr..
Hh.. Aauuhh" itulah suara yang sempat dikeluarkan dari mulut Dirga
ketika gocokan kontolku semakin keras dan cepat. Ia bagaikan orang
kehausan yang menemukan air minum. Diteguknya keras-keras dan napasnya
seolah terputus sejenak menahan rasa kenikmatan yang kuberikan. Tanpa
bicara lagi, Dirga langsung memutar tubuhnya, sehingga ia berada di atas
mengangkangiku. Ia bagaikan orang naik kuda. Bunyi pantatnya sangat
keras beradu dengan perutku, karena ia duduk di atasku sambil
membelakangi wajahku.
"Akkhh.. Uuhh.. Uuhh.. Aakkhh.."
Suara itulah
yang sempat keluar dari mulutku ketika kurasakan nikmatnya vagina Dirga
yang menjepit kemaluanku. Ia seolah tak kenal lelah dan tak mau berhenti
melompat di atasku.
"Akkhh.. Buu..
Buu..' berhenti dulu donk. Kita istirahat dulu. Aku kecapean nih"
teriakku ketika kurasakan ada cairan hangat yang mulai mau menyelusup
keluar di ujung perutku. Tapi Dirga tetap saja bergerak dan bergoyang
pinggul di atasku tanpa peduli ucapanku. Karena ia tak mau berhenti, aku
segera bangkit dan berlutut sehingga ia secara otomatis nungging di
depanku. Aku langsung hantam dari belakang dan menggocok keras serta
cepat hingga terasa cairan hangatku sudah berada di ujung penisku. Aku
sudah tidak peduli di mana mau tumpah, apa di luar atau di dalam
kemaluan Dirga. Yang penting puas.
"Pak, cepat donk, terus gocok dengan keras, ayohh.. Uuhh.. Aahh.. Uummhh.. Auhh" kata Dirga terputus-putus.
Sedetik kemudian, Dirga berteriak sedikit keras:
"Aiihh..
Aakuu.. Kkeeluuaarr.. Paa" dan saat itu pula aku tak mampu mengendalikan
diri, sehingga cairan hangatkupun tumpah ke dalam rahim Dirga. Apa mau
dikata, nasi sudah jadi bubur. Kami saling memberi kenikmatan yang luar
biasa. Pertemuan kemaluan kami terasa sangat rapat dan seolah melekat,
sehingga terasa gemetar seluruh tubuh kami. Dirga langsung telungkup dan
merapatkan perutnya ke kasur, sementara aku tetap menindihnya. Setelah
hampir 2 menit kami tidak bergerak, akhirnya kami saling telentang puas.
Namun, tiba-tiba muncul rasa ketakutan dalam hati saya kalau-kalau Dirga hamil akibat cairan kentalku masuk ke rahimnya.
"Pak, terima
kasih atas kenikmatan yang kau berikan. Aku sama sekali baru kali ini
merasakannya. Ternyata selama ini aku belum pernah merasakan kepuasan
dan menikmati sex yang sebenarnya dari suami saya. Kepuasan yang
kuterima dari suami saya selama ini hanyalah semu dan.." belum selesai
bicara, aku segera memotongnya dan berkata:
"Maaf Bu bila
kenikmatan yang sempat kuberikan masih sedikit, sebab sedianya aku akan
memberikan sebanyak mungkin, tapi lain kali saja, sebab aku capek
sekali. Habis kita baru saja lari subuh" balasku.
Setelah itu,
kami saling berpelukan dan memberi ciuman perpisahan, lalu kami bangkit
menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Di dalam kamar kami saling
berbisik karena takut ada orang lain yang mendengar pembicaraan kami.
Setelah kami
berpakaian lengkap seperti semula, aku lalu membuka pintu belakang
rumahku dan memeriksa kalau-kalau ada orang lain yang lalu lalang dan
mencurigakan, tapi ternyata sepih. Aku masih mau tahan agar Dirga
istirahat sejenak untuk melanjutkan ronde berikutnya, tapi tiba-tiba
Dirga melihat jam tangannya lalu segera pamit keluar karena katanya
sudah pukul 10.10 menit siang. Suaminya sudah hampir bangun. Iapun
cepat-cepat kembali ke rumahnya.
Besoknya kami
sempat ketemu seperti layaknya tetangga dan kami pura-pura bersikap
biasa-biasa saja, namun hari minggu berikutnya, kamipun kembali berlari
subuh bersama, tapi kami hanya sepakat untuk mengulangi persetubuhan
kalau ada kesempatan kapan-kapan saja. Aku menjanjikan tip yang lebih
nikmat lagi, dan iapun setuju.
Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Porno, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Porno, Kiash Seks.
Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Porno, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Porno, Kiash Seks.
