Agen poker terbaik dan terpercaya 2016
Aku bertetangga dengan Bu Yus (bukan nama sebenarnya) sudah lama. Ia sudah pernah menikah dua kali. Suami yang pertama meninggal, sedangkan suami kedua merantau ke Malaysia. Anaknya ada 3, yang pertama sudah kerja di Jakarta.
Anak kedua, sebut saja namanya Bam,
adalah teman mainku sejak kecil. Aku sering bermain ke rumahnya. Sejak
lulus SMP Bam sekolah di kota lain. Tapi aku masing sering datang ke
rumah Bu Yus untuk menjemput adikku yang sebaya dengan adik Bam.
Aku sering dibuat “gemes” oleh Bu Yus
karena gerak-geriknya yang mengundang birahiku. Kalau di rumah ia suka
pakai baju seenaknya, duduk atau tiduran juga seenaknya, sehingga sering
terlihat buah dadanya yang ranum atau pahanya yang mulus. Bukan sekali
dua kali aku melihatnya sedang tiduran dan bajunya tersingkap. Mungkin
ia lupa kalau sudah remaja dan sudah punya nafsu.
Sekali waktu aku pernah melihat Bu Yus
lagi nyuci baju di sumur belakang rumahnya sambil jongkok dan bugil.
Sayang ia menghadap ke tembok, jadi aku hanya bisa melihat pantatnya
yang aduhai. Gara-gara itu aku jadi suka berkhayal tentang Bu Yus. Aku
suka deg-degan kalau mau menjemput adikku di tetangga .
Pada suatu hari waktu mau menjemput
adikku ke rumah Bu Yus, hujan turun tiba-tiba dan sangat deras. Otomatis
aku lumayan basah kuyup. Bu Yus menyuruhku untuk ganti baju dan celana
pendek milik Bam. Tadinya aku mau menolak tapi Bu Yus memaksa. Adikku
dan anak Bu Yus masih saja asyik bermain di ruang tamu. Bu Yus
menggandengku ke kamar Bam. Tak lupa ia menutup pintu dan setelah itu
melepas baju kaos yang kupakai.
Aku seperti terhipnotis, diam saja.
Apalagi waktu Bu Yus jongkok di depanku lalu dengan tiba-tiba memelorot
celanaku dan kemudian celana dalamku. Aku diperlakukan seperti anak
kecil. Mula-mula dipakaikan baju milik Bam, lalu celana. Aku terkesiap
waktu wajah Bu Yus bersentuhan dengan “anuku” saat ia memakaikanku
celana.
Otomatis “anuku” membesar. Ketika celana
baru sampai ke lututku tiba-tiba Bu Yus meremas- remas “anuku”. Ia
menatapku dengan raut wajah gemas. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat
selain diam saja. Apalagi ketika kurasakan nikmat di balik remasan Bu
Yus.
Tak lama kemudian Bu Yus berdiri lalu
jalan menuju pintu sambil menarik “anuku”. Aku berjalan terseok-seok
akibat celana yang masih nyangkut di lutut. Kemudian Bu Yus jongkok lagi
sambil menyingkap roknya, sehingga terlihat celana dalamnya berwarna
ungu. Punggungnya disandarkan ke pintu, mungkin maksudnya untuk menahan
agar pintu tidak bisa dibuka.
Setelah meremas-remas sesaat, tiba-tiba
Bu Yus memasukkan “anuku” ke mulutnya. Aku pernah nonton adegan seperti
itu di HP temanku, tak kusangka aku akhirnya mengalami sendiri. Bu Yus
mengulum dan menghisap “anuku” yang membuatku megap-megap dilanda nafsu.
Dengan agak ragu aku membungkuk dan kuarahkan tanganku ke dadanya. Bu
Yus diam saja saat kuremas-remas dua bukit ranumnya.
Nikmat yang kurasakan saat meremas
membuatku makin terangsang. Ditambah lagi dengan hisapan Bu Yus yang
makin gencar. Akhirnya aku tak tahan lagi. Cairan spermaku tumpah di
mulut Bu Yus. Bu Yus membiarkan mulutnya penuh dengan cairanku, lalu ia
berjalan menuju jendela yang tertutup, membukanya sedikit dan meludah di
situ.
Dengan tubuh gemetar kupakai celana
pinjaman. Bu Yus menghampiriku dan mengajakku keluar kamar. “Jangan
bilang siapa-siapa lho, ya”, pesan Bu Yus sambil membuka pintu. Aku
hanya mengangguk. Bu Yus meminjamiku payung lalu kuajak adikku pulang.
Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan Bu Yus dan kenikmatan yang
diberikannya.
Sampai beberapa hari memori tentang
kejadian di kamar Bam terus membayangiku. Rasanya aku ingin mengulangi
lagi. Setiap kali ke rumah Bu Yus aku berdebar-debar, berharap ia
melakukannya lagi padaku. Sayangnya kesempatan itu tidak pernah ada.
Kadang di rumah Bu Yus ada tamu, entah
itu tetangga atau dari luar kampung, kadang adikku langsung minta pulang
begitu aku muncul di pintu rumah Bu Yus. Aku gelisah setiap kali
keinginan itu muncul lagi. Kalau aku tak tahan kubelai-belai dan kukocok
sendiri “anuku” sambil membayangkan dihisap oleh Bu Yus.
Tapi meskipun aku orgasme, kurang afdol
rasanya dibandingkan kalau diemut Bu Yus. Suatu hari waktu aku baru
pulang sekolah Bu Yus datang ke rumahku dan minta tolong untuk memasang
almari knock down yang baru dibelinya. Waktu itu adikku dan anak Bu Yus
sedang ada les di sekolah, jadi ia sendirian di rumah. Aku cepat-cepat
ganti baju lalu mengikutinya pulang.
Sampai di rumahnya aku langsung mulai
bekerja memasang-masang lembaran papan yang diletakkan di dapur. Bu Yus
masuk ke kamarnya sebentar lalu keluar lagi menemaniku sambil duduk di
bangku kayu persis di depanku. Sebelum duduk ia menyibak lebih dulu
dasternya ke atas. Aku terkesima waktu duduknya agak mengangkang.
Ternyata ia tidak pakai celana dalam.
Aku langsung ereksi, tapi berusaha
pura-pura sibuk meskipun sebenarnya nafsuku sudah menggebu-nggebu.
Ketika aku sedang asyik merakit sambil duduk di lantai, tahu-tahu Bu Yus
sudah berdiri di depanku. Lalu ia menarik bagian bawah bajunya ke atas
hingga terlihat kemaluannya. Rambutnya lebat.
Aku melongo melihatnya. Sesaat kemudian
Bu Yus menarik kepalaku sampai mulutku menempel di kemaluannya.
“Jilatin, Moes …”, pintanya saat aku menengadah menatap wajahnya. Aku
pun langsung menciumi dan menjilati “milik” Bu Yus. Kemudian Bu Yus
duduk di meja dapur sambil mengangkang lebar-lebar lalu memintaku
melanjutkan lagi jilatanku.
Bu Yus tampak menikmati sekali.
Desahannya membuatku makin bernafsu. Sesekali kumainkan jariku di
“milik” Bu Yus. Lama-lama Bu Yus tidak tahan. Ia turun dari meja dan
langsung melepas celanaku. Ganti aku yang mengerang keenakan saat
“senjataku” dihisap olehnya.
Setelah puas menghisap, Bu Yus berdiri
membelakangiku sambil membungkuk. Tangannya bertumpu di meja. Pantatnya
yang bersentuhan dengan “senjataku” digoyang-goyang. “Cepet masukin,
Moes …” katanya. Aku berusaha mencari-cari sasaran, tapi tidak bisa.
Akhirnya Bu Yus membantuku hingga berhasil masuk.
Oh, rasanya tak bisa diungkapkan dengan
kata- kata. Nikmat sekali. Apalagi ketika Bu Yus bergerak maju-mundur.
Aku mengikuti gerakannya. Lama-lama aku tahu caranya. Berkali-kali Bu
Yus mengerang, sehingga aku jadi tambah bernafsu. Tiba-tiba terdengar
suara pintu dibuka. Ternyata anak Bu Yus datang. Bu Yus cepat- cepat
membenahi bajunya.
Aku juga buru-buru memakai celanaku lagi
lalu pura-pura merakit almari, sementara Bu Yus keluar dari dapur
menyambut anaknya. Aku berusaha mengatasi nafasku yang ngos-ngosan
sambil mengumpat dalam hati, kenapa anak itu cepat sekali pulangnya. Bu
Yus menyiapkan makan siang buat anaknya di ruang tamu.
Setelah itu ia ke dapur lalu menyeretku
ke kamar mandinya. Di situ aku dan Bu Yus melanjutkan kenikmatan yang
tertunda sampai cairanku keluar. Lega sekali rasanya. Bu Yus
mengingatkanku untuk tidak cerita ke orang lain tentang hal itu.
Sejak saat itu, setiap kali ada
kesempatan, aku dan Bu Yus melakukannya. Kadang di dapur, kadang di
dekat sumur. Kami tidak pernah melakukan di kamar Bu Yus, karena
kamarnya tidak berpintu. Hanya ditutup kain korden tebal. Sayangnya,
hubungan gelapku dengan Bu Yus hanya sebentar. Tak sampai 6 bulan.
Itu karena suaminya kembali dari Malaysia dan membuka bengkel di dekat rumahnya. END
