Agen poker terbaik dan terpercaya 2016
Suatu hari saat di Bandung, aku menyempatkan diri untuk fitness, menjaga kondisi tubuhku. Aku kerja di Jakarta, di sebuah event organizer ternama. Hampir setiap dua hari sekali sehabis pulang kerja aku fitness di sebuah hotel, dengan peralatan fitness yang lengkap.
Maklum, pekerjaanku membutuhkan
vitalitas tinggi. Maka walaupun libur di Bandung, atau tepatnya pulang
ke kampung halaman, aku tidak pernah melewatkan olahragaku yang satu
***** O ya, aku Aryo, biasa dipanggil Ary. Usiaku 30 tahun, dan belum
menikah. Tentunya hal ini merupakan keuntunganku untuk bisa menikmati
masa bujang lebih lama, having fun dan get a life.
Sebenarnya tujuan fitnessku semula
iseng, ingin melihat wanita-wanita sexy berpakaian ketat (baju senam),
tapi akhirnya terasa manfaatnya, otot perutku rata, bisep dan trisepku
terbentuk, hingga membuatku percaya diri. Tapi tentunya kegiatanku
ngeceng wanita berpakaian sexy tidak pernah kulewatkan. Sambil menyelam
minum air.. he he hee.
Ok, akhirnya kupilih sebuah hotel di
bilangan Asia Afrika. Aku membiasakan tidak langsung pulang ke rumahku.
Satu hari cutiku, kumanfaatkan untuk menikmati Bandung sendirian,
daripada dengan orang-orang rumah. Orang tuaku termasuk old fashion,
yang penuh dengan aturan ketat, walaupun ku sadar hal itulah yang dapat
membuatku hidup mandiri.
Hari itu masih sore sekitar pukul 16.
30. Setelah aku cek in dan beristirahat sebentar, kumanfaatkan fasilitas
fitness gratisku. Aku mulai mengganti bajuku dengan celana pendek dan
t-shirt tanpa lengan.
Ketika aku memasuki ruang fitness, aku
melihat sekeliling, masih agak kosong. Hanya ada beberapa pria di
beberapa alat. Hmm, this is not my lucky day, pikirku sambil berjalan
menuju sepeda statis. Ku kayuh sepeda itu sekitar lima menit dan beralih
ke beberapa alat lainnya.
Sepuluh menit menjelang pukul lima sore,
satu, dua wanita masuk. Ok, this isn’t my unlucky day after all. Aku
makin semangat menarik beban. Diikuti beberapa wanita lainnya, yang
tentunya berpakain senam, warna-warni, ada yang memakai celana panjang
cutbray dan kaos ketat, short pants dan atasan model sport bra, menambah
indahnya pemandangan tempat fitness tersebut. Beberapa di antara mereka
ada yang duduk, ada yang ngobrol, cekikikan, dan mencoba beberapa alat.
Oh, mungkin mereka mau ber-aerobic, pikirku.
Betul saja ketika seorang wanita
berpakaian seperti mereka masuk dan menotak-ngatik tape compo, dan
terdengarlah suara musik house dengan tempo cepat. Masing-masing mereka
menyusun barisan dan mulai bergerak mengikuti instruktur. Gerakan demi
gerakan mereka ikuti. Masih pemanasan.
Tiba-tiba seorang wanita masuk, sangat
cantik dibanding mereka, tinggi 165 kira-kira, rambut panjang diikat
buntut kuda, memakai pakaian senam bahan lycra mengkilat warna krem
dengan model tank top dan g-string di pantatnya.
Bongkahan pantatnya tertutup lycra ketat
warna krem lebih muda, sehingga menyerupai warna kulit tangannya yang
kuning langsat hingga kaki yang tertutup kaos kaki dan sepatu. Woow,
sangat seksi. Tak sengaja kulihat bagian dadanya karena handuk yang
menggantung di pundak ditaruhnya dikursi dekat dengan alat yang kupakai.
Tonjolan putingnya terlihat jelas
sekali, menghiasi tonjolan indah yang kira-kira 36 b ukurannya. Sedikit
melirik ke arahku lalu akhirnya mencari barisan yang masih kosong dan
mengikuti gerakan instruktur. Dadaku berdegup kencang pada saat dia
melirik walaupun hanya sedetik.
Gerakan demi gerakan instruktur
diikutinya, mulai dari gerakan pemanasan hingga gerakan cepat
melompat-lompat sehingga bongkahan payudaranya bergerak turun naik.
Batangku mulai membengkak seiring dengan lincahnya gerakan si dia.
Mataku terus tertuju pada si dia.
Posisiku kebetulan sekali membentuk 45
derajat dari samping kirinya agak ke belakang. Hmm betapa beruntungnya
diriku. Hingga akhirnya dia melakukan gerakan pendinginan. Keringat
membasahi bajunya, tercetak jelas di punggung dan dadanya, sehingga
tonjolan puting itu terlihat jelas sekali, ketika dia memutar badan ke
kiri dan ke kanan.
Hingga akhirnya aku dibuat malu. Ketika
aku memperhatikan dia, dia pun memperhatikanku lewat pantulan kaca
cermin yang berada di depannya ketika aku mengalihkan pandangang ke
kaca. Dia tersenyum kepadaku lewat pantulan cermin. Entah berapa lama
dia memandangku sebelum aku sadar dipandangi. Aku langsung memalingkan
muka dan beranjak dari alat yang kupakai.
Aku segera berganti pakaian untuk
berenang. Segera kuceburkan diri untuk mendinginkan otak. Dua atau tiga
balikan kucoba berganti gaya hingga akhirnya balikan ke empat gaya
punggung, kepalaku menabrak seseorang dan terjatuh menyelam ke air.
Sama-sama kami berbalik dan setelah
berbalik ku sadar yang ku tabrak adalah pantatnya si dia yang telah
berganti pakaian renang, potongan high cut di pinggul dengan warna
floral biru yang seksi. Kini tonjolan putingnya tersembunyi dibalik cup
baju renangnya, membuatku sedikit kecewa.
“Eh, maaf Mbak, nggak kelihatan, habis gaya punggung sih” kataku meminta maaf.
“Nggak kok Mas, aku yang salah, nggak lihat jalur orang berenang”, jawabnya sambil mengusap muka dan rambutnya ke belakang.
Si dia tersenyum kembali ke arahku, sambil lirikan matanya menyapu dari muka hingga bagian pusarku.
“Nggak kok Mas, aku yang salah, nggak lihat jalur orang berenang”, jawabnya sambil mengusap muka dan rambutnya ke belakang.
Si dia tersenyum kembali ke arahku, sambil lirikan matanya menyapu dari muka hingga bagian pusarku.
“Kenalan dong, aku Aryo, biasa dipanggil Ary”, kataku sambil menyodorkan tangan.
Dijabatnya tanganku sambil berkata”Linda, lengkapnya Melinda”, jawabnya.
Kami menepi ke bibir kolam, sambil mencelupkan diri se batas leher masing-masing. Kami duduk bersampingan.
Dijabatnya tanganku sambil berkata”Linda, lengkapnya Melinda”, jawabnya.
Kami menepi ke bibir kolam, sambil mencelupkan diri se batas leher masing-masing. Kami duduk bersampingan.
“Baru disini Mas?”, Linda mulai lagi membuka pembicaraan.
“Iya, tapi jangan panggil Mas, Ary aja cukup kok. Aku asli Bandung, tapi memang baru kes***** Aku kerja di Jakarta. Kamu Lin?”, ku balik bertanya.
“Aku asli Bandung juga, kerja di bank B**, jadi CS. Deket sini kok, seberangan. Aku biasa aerobic dan renang disini, duahari sekali, yang ada jadwal aerobicnya saja”.
“Iya, tapi jangan panggil Mas, Ary aja cukup kok. Aku asli Bandung, tapi memang baru kes***** Aku kerja di Jakarta. Kamu Lin?”, ku balik bertanya.
“Aku asli Bandung juga, kerja di bank B**, jadi CS. Deket sini kok, seberangan. Aku biasa aerobic dan renang disini, duahari sekali, yang ada jadwal aerobicnya saja”.
Pembicaraan kami berkembang dari hal
kerjaan mengarah ke hal-hal yang lebih pribadi. Linda baru putus dengan
pacarnya, kira-kira dua minggu yang lalu. Keluarga pacarnya tidak setuju
dengan Linda dan pacarnya dijodohkan dengan orang lain pilihan
keluarganya. Agak sedih Linda bercerita hingga..
“Lin, balapan yuk ke seberang, gaya bebas”, ajakku.
“Hayo, .. siapa takut?”, jawabnya.
Kami berdua berlomba sampai sebrang. Aku sedikit curang dengan mendorong bahunya ke belakang sehingga Linda sedikit tertinggal. Pada saat aku duluan di seberang..
“Hayo, .. siapa takut?”, jawabnya.
Kami berdua berlomba sampai sebrang. Aku sedikit curang dengan mendorong bahunya ke belakang sehingga Linda sedikit tertinggal. Pada saat aku duluan di seberang..
“Ari, kamu curang, kamu curang”, rengeknya sambil memukul-mukul tanganku.
Aku tertawa-tawa dan bergerak mundur
menjauhi Linda. Dia mengejarku, sampai akhirnya”Byurr, .”., aku terjatuh
kebelakang. Kakiku menyenggol kakiknya hingga diapun terjatuh dan kami
berdua tidak sengaja berpelukan. Dadanya yang empuk menyentuh dadaku,
membuat batangku kembali membengkak. Ketika sama-sama berdiri, kami
masih berpelukan walau agak renggang.
Kami saling pandang, kemudian Linda
memelukku kembali. Kesempatan ini tidak ku sia-siakan dengan balas
memeluknya. Udara Bandung yang dingin pada sore yang beranjak malam
tersebut, menambah kuatnya pelukan kami.
Batangku yang sedari tadi mengeras
menyentuh perut bagian bawahnya Linda, atau tepatnya diatas kemaluan
Linda sedikit. Pantat Linda bergerak mendorong, hingga batangku geli
terjepit antara perut Linda dan perutku. Berulang-ulang Linda melakukan
itu, sehingga darahku berdesir.
“Emhh.”., Linda bergumam.
Sadar aku berada di tempat umum, walaupun kolam renang agak sepi, hanya ada tiga orang selain kami, membuatku agak sedikit melepaskan pelukan walau sayang untuk dilakukan.
Sadar aku berada di tempat umum, walaupun kolam renang agak sepi, hanya ada tiga orang selain kami, membuatku agak sedikit melepaskan pelukan walau sayang untuk dilakukan.
“Lin, mending kita sauna hotel yuk!”, ajakku menetralkan suasana.
Linda terlihat agak kecewa dengan sikapku yang sengaja kulakukan.
“Oke!”, jawabnya singkat.
Linda terlihat agak kecewa dengan sikapku yang sengaja kulakukan.
“Oke!”, jawabnya singkat.
Kami berdua mengambil handuk di kursi
pinggir kolam, dan berjalan bersamaan, menuju ruang sauna hotel yang tak
jauh dari kolam renang. Terbayang apa yang dilakukan Linda saat di
kolam, membuatku menerawang jauh menyusun rencana dengan Linda
selanjutnya.
“Kosong.”., kataku dalam hati melihat ruang sauna hotel.
Kami berdua masuk, dan aku sengaja mengambil tempat duduk dekat pintu, sehingga orang lain tidak dapat melihat kami berdua lewat jendela kecil pintu sauna hotel.
“Lin.”., belum sempat aku bicara, Linda menciumku di bibir.
Kami berdua masuk, dan aku sengaja mengambil tempat duduk dekat pintu, sehingga orang lain tidak dapat melihat kami berdua lewat jendela kecil pintu sauna hotel.
“Lin.”., belum sempat aku bicara, Linda menciumku di bibir.
Bibir kami saling berpagut melakukan
french kiss. Penetrasi lidah Linda di mulutku, menunjukkan dia sangat
berpengalaman. Tangan Linda memegang dadaku, kemudian mengusap menyusuri
perut hingga sampai pada batangku yang sudah berdiri dari tadi. Linda
meremas batangku yang masih terbungkus celana renang, sementara kuremas
dua gunung montok. Betapa kenyal dan kencang sekali payudaranya.
Temperatur ruang sauna hotel menambah
panasnya hawa disana. Kubalik Linda membelakangiku. Kuciumi tengkuknya,
dan ku remas payudaranya”.Emhh.. Ary.. ahh”, Linda melenguh. Ku susupkan
tanganku ke payudaranya, dari celah baju renangnya. Ku pilih putingnya,
dan membuat Linda sedikit menjerit, dan menggelinjang. Untungnya
ruangan sauna hotel kedap suara.
“Ary, aku butuh kamu Ry, .. malam ini saja.. ahh.”., Linda berbisik di telingaku, sambil masih kumainkan putingnya.
“Lanjutkan di kamarku yuk, ..!” ajakku.
Punggung Linda menjauhi badanku dan berbalik.
“Kamu cek in di s*****.?”, tanyanya dengan muka sedikit gembira.
“Bukannya kamu.”.
“Ya sayang.”., sambil akhirnya kutempatkan jari telunjukku di mulutnya.
Akhirnya kujelaskan alasanku.
“Lanjutkan di kamarku yuk, ..!” ajakku.
Punggung Linda menjauhi badanku dan berbalik.
“Kamu cek in di s*****.?”, tanyanya dengan muka sedikit gembira.
“Bukannya kamu.”.
“Ya sayang.”., sambil akhirnya kutempatkan jari telunjukku di mulutnya.
Akhirnya kujelaskan alasanku.
Satu-satu kami keluar dari ruang sauna
hotel. Linda bergegas ke ruang ganti. Begitupun diriku. Setelah siap,
Linda menenteng tasnya dan kami pun berjalan bersamaan. Kami berjalan
sambil memeluk pinggang masing-masing, layaknya sepasang kekasih yang
sudah lama pacaran. Stelah mengambil key card dari recepsionist, kami
naik ke kamarku di 304.
Setelah masuk, pintu ditutup, dan
langsung kami merebahkan diri di ranjang. Untung ku pilih tempat tidur
sharing. Linda masih memakai baju seragam banknya, lengkap dengan
blazer, sepatu hak tinggi dan stocking hitam menggoda. Seksi sekali!
Linda di bawah sementara aku diatasnya
menciumi bibimnya. Sesekali kujilat leher dan telinganya. Linda meracau
memanggil-manggil namaku. Kubuka blazernya. Dari blouse putih tipis yang
masih menempel, terlihat jelas puting berwarna coklat menerawang.
Hmm, sengaja tidak memakai bra pikirku.
Kubuka kancingnya satu persatu. Kujilati dadanya. Lidahku menyapu dua
bukit kembarnya yang mengencang. Rambutku diusapnya sambil dia melenguh
dan memanggil namaku berkali-kali. Sesekali kugigit putingnya.
Roknya kusingkapkan, ternyata dibalik
stocking hitamnya itu, Linda tidak memakai CD lagi. Ku jilat kemaluan
Linda yang masih terhalang stocking. Noda basah di bibir vagina tercetak
jelas di pantyhosenya. Linda semakin mecarau dan menggelinjang. Ku
gigit sobek bagian yang menutupi vaginanya yang basah. Kujilati labia
mayoranya. Perlahan kusapu bibir vagina merah merekah itu. Kucari
klitorisnya dan kumainkan lidahku di sana.
Linda mengejang hebat, tanda orgasme pertamanya.
“Emhh Arryy.. ahh”, Linda sedikit berteriak tertahan.
“Makasih sayang.. oh.. benar-benar nikmat..!”.
“Pokoknya ganti stocking ku mahal nih”, Linda merengek sambil cemberut.
“Oke, tapi puaskan dulu aku Lin, .”., jawabku sambil rebahan di ranjang.
“Emhh Arryy.. ahh”, Linda sedikit berteriak tertahan.
“Makasih sayang.. oh.. benar-benar nikmat..!”.
“Pokoknya ganti stocking ku mahal nih”, Linda merengek sambil cemberut.
“Oke, tapi puaskan dulu aku Lin, .”., jawabku sambil rebahan di ranjang.
Linda kemudian berbalik dan berada di
atasku. Blouse terbuka yang masih menempel itu disingkirkannya. Hingga
terpampanglah dua bukit menggantung di atasku. Vagina basah Linda terasa
di perutku. Rok yang tersingkap dilepasnya lewat atas. Tinggal stocking
yang masih menempel, sepatunya pun telah lepas.
Linda kembali menciumiku. Lidahnya
menyapu dadaku dan putingku. Sesekali digigitnya, membuatku juga
menggelinjang kegelian. Kemudian lidahnya menyapu perutku hingga sampai
ke batang penisku yang tegak. Linda mengocoknya perlahan.
Ujung lidahnya menari di lubang
kencingku. Rasa hangat itu terasa manakala lidahnya menyapu seluruh
permukaan penisku. Seluruh batang penisku terbenam di mulut Linda.
Sambil dikocok, keluar masuk mulutnya Linda.
“Ohh..!” aku pun tak luput meracau.
Hampir terasa puncakku tercapai, ku dorong linda menjauhi penisku, aku bangun dan berlutut di belakang Linda.
Hampir terasa puncakku tercapai, ku dorong linda menjauhi penisku, aku bangun dan berlutut di belakang Linda.
“Masukkin Ry, fuck me please, Ohh..
arrghh.. Arryy!”, Linda berteriak seiring dengan masuknya batang penisku
sedikit-demi sedikit lewat celah stocking yang kugigit tadi.
“Bless.”..Pantat Linda bergerak maju mundur, demikian juga pantatku, saling berlawanan.
“Bless.”..Pantat Linda bergerak maju mundur, demikian juga pantatku, saling berlawanan.
“Oh.. ooh.. ahh.. ahh.. God, .. fuck me
harder.. Aaahh.. Ary.. yes”, begitulah kalinat tak beraturan meluncur
dari mulut Linda, bersamaan dengan semakin capatnya gerakanku.
Ku remas-remas bongkahan pantat seksinya. Linda menjilati jari-jarinya sendiri.
“Mmhh.. Aaahh.. mmh.”., desah Linda yang membuatku semakin bernafsu untuk menggenjot pantatku.
Ku remas-remas bongkahan pantat seksinya. Linda menjilati jari-jarinya sendiri.
“Mmhh.. Aaahh.. mmh.”., desah Linda yang membuatku semakin bernafsu untuk menggenjot pantatku.
Kemudian kami berganti posisi. Aku
berbaring dan Linda berada di atasku. Linda mengambil ancang-ancang
untuk memasukkan penisku ke dalam vagina basahnya. Linda terlebih dahulu
mengusap-usapkan penisku di bibir vaginanya. Aku makin kelojotan dengan
perlakuan Linda. Centi demi centi penisku dilahap vagina Linda.
“Blessh.”., lengkap sudah penisku dilahap vaginanya.
Linda bergerak turun naik beraturan.
Payudaranya bergoyang turun naik pula. Pemandangan indah terebut tidak
kulewatkan saat badanku bangun, dan wajahku menghampiri payudaranya.
Kuremas dua gunung kembar yang begoyang mengikuti irama siempunya.
Kujilati dan kusedot bergantian.
“Errgh.. erghh.. ahh.”., Linda mendesah tanda menikmati genjotannya sendiri.
Kini kutarik tubuh Linda sehingga ikut
berbaring di atas tubuhku. Ku mulai menggenjot pantatku dari bawah.
Linda teridam dan menengadahkan kepalanya, dan sesaat kemudian Linda
berteriak meracau.
“Arrgghh.. oohh.. aah.. enakkhh.. aahh.. nikmathh.. ooh.”., serunya.
Kuyakin posisi seperti ini membuatnya merasakan sensasi yang tiada duanya.
Kuyakin posisi seperti ini membuatnya merasakan sensasi yang tiada duanya.
5 menit dengan posisi seperti itu, Linda
mengejang, dan berteriak panjang”, AARRGHH.. Shit.. Uuuhh.. Ary..
aaihh.”., tanda dia mencapai orgasme.
Terlepas penisku dari vaginanya tatkala
Linda ambruk di sisiku. Linda ngos-ngosan kecapean. Kini giliranku untuk
mendapatkan kepuasan dari Linda. Kubalik tubuh penuh keringat yang
mengkilat terkena cahaya lampu.
Sungguh seksi sekali dia saat itu.
Kubuka kedua kakiknya, dan ku lucuti stocking hitam yang masih menempel
di kakinya yang mulus. Terlihat indah kaki nan putih mulus dari pantat
hingga betis. Kujilati lubang anus Linda, dan membuat dia sedikit
mengangkat pantatnya keatas.
“Please.. Ary.. not now.. Give me a break.. Ohh.”., ratapnya ketika mendapat perlakuanku.
Aku tak mempedulikan ratapannya. Justru
aku semakin gila dengan perlakuanku, menjilati lubang anusnya dan
membuat penetrasi di lubangnya dengan lidahku. Area perineumnya pun tak
luput ku jilati. Hingga akhirnya kuputuskan untuk mensodomi Linda,
karena kulihat lubang anus Linda agak sedikit besar dibanding orang yang
belum pernah disodomi.
“Lin, siap ya.”., kataku sambil mengusapkan ludahku di penis yang masih berdiri tegak.
“Apa.., mau apa Ry.. kamu ma.. AAHH, .. Aryy.. Janng.. aahh”, belum selesai Linda bicara, aku telah menancapkan penisku di anusnya.. begitu hangat, sempit dan lembut.
“Apa.., mau apa Ry.. kamu ma.. AAHH, .. Aryy.. Janng.. aahh”, belum selesai Linda bicara, aku telah menancapkan penisku di anusnya.. begitu hangat, sempit dan lembut.
Kutarik kembali perlahan dan kumasukkan lagi. Iramanya ku percapat. Linda pasrah, dan meracau tak karuan.
“Eh.. Ehh.. gimana, .. eh.. enak.. lin..?, tanyaku sambil menggenjot pantat Linda seksi nan aduhai.
“Ohh.. Arriieh.. aagh.. nikmat rii.. ah.. Shitt.. C’mon.. harder baby.”., jawabnya.
“Ohh.. Arriieh.. aagh.. nikmat rii.. ah.. Shitt.. C’mon.. harder baby.”., jawabnya.
10 menit aku memompa batang penisku di
anusnya, terasa cairan sperma sudah ada di ujung kepala penisku.
Buru-buru kutarik keluar penisku, dan kubalik Linda menghadapku. Sambil
kukocok, spermaku muncrat di muka Linda.
Linda yang tidak siap menerima spermaku
di mukanya, mengelengkan kepala kiri dan kanan, hingga spermaku
membasahi rambut dan pipinya. Hingga akhirnya mulutnya terbuka, dan sisa
semprotan spermaku masuk di mulutnya. Setelah spermaku habis, dia
mengulum penisku. Aku yang masih merasa geli namun nikmat, semakin
menikmati sisa-sisa oragasme panjangku.
“God.. Thank you dear.. Linda.”., kataku sesaat setelah roboh ke samping Linda.
“Curang lagi kamu Ry, .. Tau gitu ku minum semuanya.. kasi tau kek mau mucrat di muka, gitu”, Linda cemberut menjawabnya.
Aku hanya tersenyum. Tak terasa kami bercinta cukup lama, hingga jam 10 malam.
Akhirnya Linda memutuskan untuk bermalam
di kamarku. Kami masih melakukannya beberapa kali hingga subuh. Toh,
hari itu akhir pekan dan Linda memang libur di hari Sabtu. Pertemuan
pertama itulah pula yang membuat kami berpacaran selama 6 bulan hingga
akhirnya kami putus. END
“Curang lagi kamu Ry, .. Tau gitu ku minum semuanya.. kasi tau kek mau mucrat di muka, gitu”, Linda cemberut menjawabnya.
Aku hanya tersenyum. Tak terasa kami bercinta cukup lama, hingga jam 10 malam.
